<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>BLOG GURU YANG (tak lagi) TERANIAYA</title>
	<atom:link href="http://lorongedukasi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lorongedukasi.wordpress.com</link>
	<description>saatnya mereka tahu guru itu perlu</description>
	<lastBuildDate>Sat, 26 Sep 2009 07:44:25 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='lorongedukasi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/8d6ec927e6ea51fdc92b269fde5f5b8c?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>BLOG GURU YANG (tak lagi) TERANIAYA</title>
		<link>http://lorongedukasi.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Dua Sendok Garam</title>
		<link>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/dua-sendok-garam/</link>
		<comments>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/dua-sendok-garam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Sep 2009 07:44:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>epiet</dc:creator>
				<category><![CDATA[nyantri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/pitstop/wordpress/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Tasban dikenal sebagai santri yang periang. Setiap berhadapan dengan Mbah Yai tak pernah sekalipun wajah cemberut tampak di depan gurunya. Mbah Yai amat menyayangi Tasban karenanya.
Pada suatu hari Tasban hadir di depan Mbah Yai dengan raut dahi berkerut, bibir monyong dan tatap mata tertunduk. Mbah Yai tahu bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikiran santrinya ini.
&#8220;Hari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lorongedukasi.wordpress.com&blog=1999793&post=45&subd=lorongedukasi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tasban dikenal sebagai santri yang periang. Setiap berhadapan dengan Mbah Yai tak pernah sekalipun wajah cemberut tampak di depan gurunya. Mbah Yai amat menyayangi Tasban karenanya.</p>
<p>Pada suatu hari Tasban hadir di depan Mbah Yai dengan raut dahi berkerut, bibir monyong dan tatap mata tertunduk. Mbah Yai tahu bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikiran santrinya ini.</p>
<p>&#8220;Hari ini kamu tampak susah sekali,Ngger. Ada apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ngapunten Mbah Yai. Saya sudah bosan hidup. Sepertinya beban yang harus saya tanggung teramat berat sekali&#8221;</p>
<p>Mbah Yai tahu benar masalah Tasban. Apalagi kalau bukan masalah ekonomi keluarga. Tasban sebagai anak sulung yatim tentu menjadi tulang punggung ibu dan tiga adiknya. Belum lagi anaknya yang masih berumur dua tahun dan istri yang paling ia sayangi.<span id="more-45"></span></p>
<p>&#8220;Pulanglah Ngger. Ambillah dua sendok garam lalu bawa kemari!&#8221; perintah Mbah Yai. Tasban hanya menggerutu dalam hati. Ia protes karena bukan solusi yang Mbah Yai berikan dengan masalahnya justru disuruh mengambil garam. Tasban mengenal betul karakter Mbah Yai maka ia pun segera pulang dan melaksanakan perintah Mbah Yai.</p>
<p>Singkat cerita Tasban sudah kembali berada di hadapan Mbah Yai. Dua sendok makan garam dapur ada di antara mereka.  Mbah Yai masuk ke dalam lalu keluar sambil membawa segelas air putih.</p>
<p>&#8220;Ngger, ambil satu sendok garam itu lalu masukkan dalam gelas ini!&#8221; perintah Mbah Yai sambil menunjuk air yang ia ambil tersebut. Tasban tak banyak bicara. Ia lakukan perintah gurunya.</p>
<p>&#8220;Aduk lalu minumlah!&#8221; perintah Mbah Yai selanjutnya.</p>
<p>&#8220;Edan! orang punya masalah ditambah lagi masalah dengan minum air garam&#8221; gerutu Tasban dalam hati</p>
<p>&#8220;Ehemm&#8230;ehemm&#8230;!&#8221; Dahak yang dipaksakan dengan mata melotot ditunjukkan di wajah Mbah Yai. Tasban tahu gelagat ini. Ia sadar Mbah yai yang satu ini memiliki perasa yang luar biasa peka.</p>
<p>&#8220;Gimana Ngger rasanya?&#8221; tanya Mbah Yai</p>
<p>&#8220;Puuiihh&#8230;!! Uuaasssiiiinnn Mbah&#8230;Huekkk!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Nah, sekarang kamu ikut aku. Jangan lupa bawa garamnya ya!&#8221; ajak Mbah Yai. Mereka lantas keluar dari pondok menuju ke sebuah telaga di belakang pondok.</p>
<p>Sampai di pinggir telaga&#8230;</p>
<p>&#8220;Ngger, masukkan garam itu di telaga ini!&#8221; perintah Mbah Yai.</p>
<p>&#8220;Sekarang minum air tersebut!&#8221; Lanjutnya</p>
<p>&#8220;Bagaimana rasanya,Ngger?&#8221; tanya Mbah Yai</p>
<p>&#8220;Alhamdulillah,Mbah. Uenakk&#8230;segerrrr. Mau lagi dong&#8221; Pinta Tasban kegirangan. Mbah Yai hanya tersenyum saja melihat tingkah santrinya.</p>
<p>&#8220;Ngger, itulah solusi dari masalahmu&#8221; Kata Mbah Yai setelah Tasban tampak puas menikmati kesegaran air telaga.</p>
<p>&#8220;Maksudnya bagaimana Mbah? Saya kok belum terang. Mohon dijelaskan&#8221;</p>
<p>&#8220;Garam adalah masalah. Gelas dan telaga ibarat hati. Jika hati kita seluas gelas maka masalah kecil akan menjadi masalah besar. Namun jika hati seluas telaga maka masalah itu tak akan terasa. Hanya nikmat-nikmat yang berasa. Oleh karena itu hati harus legawa menghadapi setiap permasalahan yang menimpa.</p>
<p>&#8220;Astaghfirullah&#8230;..saya paham Mbah Yai&#8221;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lorongedukasi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lorongedukasi.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lorongedukasi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lorongedukasi.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lorongedukasi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lorongedukasi.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lorongedukasi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lorongedukasi.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lorongedukasi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lorongedukasi.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lorongedukasi.wordpress.com&blog=1999793&post=45&subd=lorongedukasi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/dua-sendok-garam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e13be1c48144e025f349649ee5c7c275?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">epiet</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kata Kunci Situs Porno</title>
		<link>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/kata-kunci-situs-porno/</link>
		<comments>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/kata-kunci-situs-porno/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 21:06:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>epiet</dc:creator>
				<category><![CDATA[socios logos]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/pitstop/wordpress/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Berita merebaknya video porno di kalangan remaja barangkali bukan hal baru. Prihatin sekaligus miris melihat kasus yang tak kunjung usai, seolah tak pernah selesai sejalan dengan berkembangnya era teknologi yang makin pesat. Rata-rata remaja usia sekolah mendapatkan video porno melalui internet. Penggunaan internet yang sangat mudah memungkinkan gampang mendapatkan informasi termasuk video porno.
Tinggal memasukkan kata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lorongedukasi.wordpress.com&blog=1999793&post=209&subd=lorongedukasi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Berita merebaknya video porno di kalangan remaja barangkali bukan hal baru. Prihatin sekaligus miris melihat kasus yang tak kunjung usai, seolah tak pernah selesai sejalan dengan berkembangnya era teknologi yang makin pesat. Rata-rata remaja usia sekolah mendapatkan video porno melalui internet. Penggunaan internet yang sangat mudah memungkinkan gampang mendapatkan informasi termasuk video porno.</p>
<p>Tinggal memasukkan kata kunci di mesin pencari situs seperti google, yahoo atau lainnya, lalu enter dan tersedialah beragam informasi yang dibutuhkan. Kemudahan dan kebebasan mendapatkan akses bak swalayan mini ini menjadi kekhawatiran para orang tua. Wajar jika mereka melarang anaknya ke warnet.<span id="more-209"></span></p>
<p>Dampak negatif internet rupanya telah melunturkan manfaat sebenarnya teknologi jaringan global ini. Padahal banyak segi positif yang bisa diperoleh berupa informasi berkaitan dengan ilmu pengetahuan atau lainnya. Petuncuran software antisitus porno oleh pemerintah merupakan langkah konkret penanganan pornografi di dunia maya.</p>
<p>Langkah ini untuk memblokir situs yang berhubungan dengan pornografi. Siapa pun bisa mendapatkan softwarenya secara gratis. Jauh sebelum pemerintah mengemukakan gagasan ini, saya pernah membuktikan dengan mencoba memasukkan kata kuncinya. Ternyata pihak warnet telah menutup akses situs tersebut.</p>
<p>Saya kemudian memasukkan kata kunci lain dengan bahasa prokem (gaul) yang beredar di kalangan remaja untuk menyebut kata yang berhubungan dengan aksi berbau porno. Hasilnya situs tersebut lolos dari blokade. Gawatnya, di dalam situs tersebut terdapat link/alamat situs lain yang berhubungan dengan tema serupa.</p>
<p>Berdasar percobaan tersebut saya bertanya, apakah software yang menutup akses situs porno tersebut telah memenuhi seluruh daftar hitam situs porno yang berjuta jumlahnya.  Kiranya pembuat software tersebut jeli mencari kata kunci. Satu hal yang pasti, semua patut acungkan jempot kepada Depkominfo atas usaha ini.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8230;dimuat di rubrik GAGASAN | SUARA MERDEKA | 04 APRIL 2008</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lorongedukasi.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lorongedukasi.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lorongedukasi.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lorongedukasi.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lorongedukasi.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lorongedukasi.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lorongedukasi.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lorongedukasi.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lorongedukasi.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lorongedukasi.wordpress.com/209/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lorongedukasi.wordpress.com&blog=1999793&post=209&subd=lorongedukasi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/kata-kunci-situs-porno/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e13be1c48144e025f349649ee5c7c275?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">epiet</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menulis Yang Membebaskan</title>
		<link>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/menulis-yang-membebaskan/</link>
		<comments>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/menulis-yang-membebaskan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 21:02:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>epiet</dc:creator>
				<category><![CDATA[didaktik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/pitstop/wordpress/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Paradigma Menulis
Banyak anak mengatakan bahwa menulis adalah pelajaran yang sulit. Berdasarkan pengamatan saya selama mengajar di kelas, pelajaran menulis adalah salahsatu materi yang paling ditakuti setelah berhitung. Jika guru sudah mengeluarkan perintah untuk membuat sebuah prosa, pada umumnya siswa serempak menyatakan keberatannya dengan berbagai ekspresi. Lima hingga sepuluh menit berlalu, jangankan berlembar-lembar kertas telah mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lorongedukasi.wordpress.com&blog=1999793&post=208&subd=lorongedukasi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="color:#ff0000;"><strong>Paradigma Menulis</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Banyak anak mengatakan bahwa menulis adalah pelajaran yang sulit. Berdasarkan pengamatan saya selama mengajar di kelas, pelajaran menulis adalah salahsatu materi yang paling ditakuti setelah berhitung. Jika guru sudah mengeluarkan perintah untuk membuat sebuah prosa, pada umumnya siswa serempak menyatakan keberatannya dengan berbagai ekspresi. Lima hingga sepuluh menit berlalu, jangankan berlembar-lembar kertas telah mereka habiskan untuk menuliskan isi otak, satupun tidak. Kertas masih saja terlihat putih. Jika sebuah judul telah terpampang di bagian atas, itu pun sudah menjadi hasil yang lumayan.<span id="more-208"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Kenyataan ini tidak dapat kita pungkiri. Ada beberapa hal yang patut kita renungkan sebagai evaluasi pembelajaran menulis pada pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Hernowo mengatakan bahwa baca-tulis adalah satu paket yang memiliki korelasi yang saling melengkapi. Minat baca yang kurang pada diri anak merupakan hambatan bagi mereka dalam menuangkan idenya. Pendapat ini ada benarnya karena dengan frekwensi membaca yang banyak anak dapat menemukan dan memperkaya kosakata. Otak mereka sudah terbiasa dengan rangkaian kata-kata dan kalimat. Namun sejauh pengamatan penulis, ada beberapa anak yang menyukai segala macam bacaan. Namun ketika dihadapkan pada pekerjaan menulis, mereka mengalami kesulitan dan enggan melakukannya. Hal inilah yang menjadi perhatian bagi saya untuk mengungkapkan lebih mendalam tentang hambatan menulis bagi siswa terutama usia di bawah duabelas tahun.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Motivasi</strong></span><br />
Beberapa teman berpendapat dalam milis belajarmenulis.com bahwa mengajarkan teknik-teknik menulis pada anak usia di bawah dua belas tahun bukan langkah efektif untuk mengajarkan menulis pada anak. Pada anak usia ini, hal yang paling mendasar adalah menciptakan habbit           ( kebiasaan) menulis pada anak. Untuk menciptakan habbit ini, pemberian motivasi adalah dasar utamanya. AMBAK ( Apa Manfaatnya Bagi Aku ) harus menjadi hal pertama sebelum memulai. Motivasi ini diberikan bisa dari cerita kehidupan para penulis yang sukses meraih buah kerja mereka  seperti J.K Rowling, Stephen King, Andrea Hirata, Habiburahman El-Shirazy, N.H Dini bahkan beberapa penulis cilik. Guru bisa memberikan ulasan manfaat yang dapat diperoleh ketika mempelajari materi menulis.<span style="color:#ff0000;"><br />
<strong><br />
Komunikasi</strong></span><br />
Kunci untuk membangkitkan minat anak menulis adalah komunikasi. Komunikasi adalah aktifitas menyampaikan apa yang ada dalam pikiran dan menyampaikannya kepada orang lain sehingga mereka dapat memahami dan mengetahui maksud pikiran kita. Menulis merupakan salahsatu bentuk komunikasi yang dilakukan dalam peradaban manusia. Komunikasi yang baik adalah manakala terjalin hubungan timbal balik antara kedua belah pihak. Komunikasi efektif yang dilakukan secara terbuka memungkinkan anak untuk berani menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya. Anak menjadi lebih percaya diri dalam mengarungi segala bidang kehidupannya. Faktor kepercayaan diri inilah yang menjadi kunci utama mengembangkan kemampuan menulis anak.<br />
Suasana keterbukaan ini dimulai dari keluarga. Suasana keterbukaan yang kita ciptakan dalam lingkungan keluarga akan menyebabkan anak bebas menceritakan kejadian yang ia dengar, lihat dan alami. Anak-anak juga manusia. Mereka memiliki sifat dasar untuk merasa dihargai oleh orang lain sebagaimana orang dewasa. Ketika mereka menceritakan pengalaman mereka, berilah respon positif terhadap mereka sekalipun cerita tersebut konyol bagi kita Luangkan waktu kita untuk mendengarkan apa yang mereka sampaikan. Pancing mereka dengan pertanyaan 5W+H, sebagai antusiasme kita mendengarkan cerita. Jika kebiasaan ini terus berlangsung, kita akan lebih mudah membimbing anak menciptakan tulisan mereka secara alami dan mengalir.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Menulis Yang Membebaskan</strong></span><br />
“Aku nulis itu kayak aku ngomong”, kata Aini seorang penulis cilik yang telah menulis buku berjudul Nasi Untuk Kakek yang diterbitkan oleh DAR! Mizan.  Aini adalah salahsatu contoh dari sekian banyak karya anak di bawah usia dua belas tahun yang berhasil menulis buku. Tidak sedikit karya anak-anak yang terpampang di rak-rak toko buku. Berdasarkan pengakuan Ibunda Aini dalam bukunya Membaca dan Menulis Seasyik Bermain bahwa ia berusaha tidak ikut campur manakala Aini menulis. Ia membiarkan Aini menulis apa adanya secara lepas, bebas, dan tanpa beban.  Imajinasinya benar-benar dimanja. Tidak ada “aturan” yang mengikat anak ketika menulis.<br />
Pada suatu kesempatan saya mengajak anak-anak menulis puisi. Beberapa mengeluh tidak bisa. Sepakat bahwa memilih kata-kata yang indah adalah hambatan bagi mereka. Ketika saya ajak mereka menulis prosa, berkali-kali secara bergiliran anak-anak maju ke depan bertanya tentang apa saja yang dapat mereka lakukan supaya tulisan mereka benar. Saya masih ingat saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Ketika pelajaran menulis berlangsung, Hal pertama yang disampaikan guru saya yakni menulislah dengan ejaan yang benar. Pesan ini terus terngiang-ngiang saat saya mulai menulis. Saya merasa ragu dengan tulisan yang telah tertuang. Keraguan ini muncul karena ketakutan salah menulis ejaan yang benar. Hasilnya tak satupun tulisan berhasil saya torehkan dalam kertas. Keadaan ini ternyata masih berlanjut hingga kini. Banyak guru yang meminta siswa menulis dengan terlebih dahulu menyampaikan aturan-aturan yang baku seperti ejaan harus tepat, batas minimal tulisan, tidak boleh ini, tidak boleh itu dan lain sebagainya. Belenggu-belenggu inilah yang harus kita sisihkan. Paling tidak guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menuliskan apa saja yang ada dalam pikiran mereka. Perkara benar atau tidak dengan ejaan yang disempurnakan dapat dilakukan saat editing. Tanamkan kepada anak bahwa salah itu bukan suatu kegagalan, melainkan suatu langkah untuk mencapai tujuan. Dengan cara seperti ini anak dapat bebas menulis secara alami dan mengalir.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">&#8230;Juara I Lomba Menulis Essay Guru se-Eks Karisedanan Semarang&#8230;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lorongedukasi.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lorongedukasi.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lorongedukasi.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lorongedukasi.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lorongedukasi.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lorongedukasi.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lorongedukasi.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lorongedukasi.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lorongedukasi.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lorongedukasi.wordpress.com/208/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lorongedukasi.wordpress.com&blog=1999793&post=208&subd=lorongedukasi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/menulis-yang-membebaskan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e13be1c48144e025f349649ee5c7c275?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">epiet</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Guru&#8230;Ayo Nulis Dong!</title>
		<link>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/guruayo-nulis-dong-2/</link>
		<comments>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/guruayo-nulis-dong-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 20:58:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>epiet</dc:creator>
				<category><![CDATA[didaktik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/pitstop/wordpress/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Januari 20, 2008, 3:48 am

Syarat pengajuan sertifikat pendidik dalam bentuk penilaian portopolio bilamana guru memiliki kualifikasi akademik serta kompetensi. Salah satu dari unsur kualifikasi akademik adalah memiliki karya pengembangan profesi. Jenis dokumen atau karya pengembangan profesi itu di antaranya adalah ; Buku yang dipublikasikan tingkat kabupaten / kota, propinsi atau nasional; Artikel yang dipublikasikan lewat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lorongedukasi.wordpress.com&blog=1999793&post=207&subd=lorongedukasi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Januari 20, 2008, 3:48 am</p>
<p style="text-align:justify;">
Syarat pengajuan sertifikat pendidik dalam bentuk penilaian portopolio bilamana guru memiliki kualifikasi akademik serta kompetensi. Salah satu dari unsur kualifikasi akademik adalah memiliki karya pengembangan profesi. Jenis dokumen atau karya pengembangan profesi itu di antaranya adalah ; Buku yang dipublikasikan tingkat kabupaten / kota, propinsi atau nasional; Artikel yang dipublikasikan lewat jurnal yang terakreditasi maupun tidak, majalah atau koran tingkat lokal, nasional maupun internasional; Pernah menjadi reviewer buku; Penulis soal EBTA / EBTANAS / UAN; Membuat modul atau buku minimal untuk satu tahun atau dua semester; Pembuatan media pembelajaran; Laporan penelitian di bidang pendidikan; karya teknologi / seni yang meliputi teknologi tepat guna, patung, rupa, lukis, sastra dll.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-207"></span>Dengan demikian kemampuan menulis seorang guru sangat diperlukan untuk memenuhi syarat-syarat tersebut. Ironisnya banyak guru belum terbiasa dengan budaya menulis. Seribu satu alasan digunakan sebagai alibi menghindarkan diri dari aktifitas menulis. Padahal banyak bahan yang dapat dikaji oleh guru untuk membuat sebuah karya tulis. J.K Rowling seorang penulis novel terkaya di dunia saat ini dengan best sellernya yakni Harry Potter mengatakan,”mulailah dengan menuliskan hal-hal yang engkau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dari perasaan diri sendiri. Itulah yang telah saya lakukan”. Stephen King seorang penulis novel legendaris dari Amerika juga mengemukakan hal yang serupa yakni menulislah apa yang engkau ketahui. Guru dapat menuliskan topik berkenaan dengan kehidupannya sebagai seorang guru yang bergelut di bidang pendidikan. Guru dapat mengangkat topik seperti perubahan kurikulum yang berlaku. Kurikulum merupakan jawaban atas tuntutan tren yang berlaku di masyarakat. Kehidupan masyarakat yang dinamis membuat kurikulum mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Konsep-konsep baru mengenai metode pembelajaran tumbuh bak cendawan pada musim hujan. Katakanlah seperti konsep Contextual Teaching Learning (CTL), quantum learning, quantum teaching, the accelerated learning, revolusi cara belajar hingga mind mapping-nya Tony Buzan. Konsep tersebut dapat kita uji coba ketika melakukan pembelajaran di sekolah. Pengalaman melakukan uji coba inilah yang dapat kita laporkan dalam sebuah tulisan. Selain itu guru juga dapat membuat tulisan yang dikaji dari masalah psikologi serta penindakan terhadap siswa. Berbicara masalah siswa adalah bahan yang tak akan habis untuk dikaji. Penerimaan siswa baru, ujian nasional bahkan curahan hati dari orangtua murid pun tak ada salahnya untuk diangkat. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi guru untuk memberikan pernyataan tidak dapat menulis karena tidak ada ide atau gagasan yang akan dbuat tulisan.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lorongedukasi.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lorongedukasi.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lorongedukasi.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lorongedukasi.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lorongedukasi.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lorongedukasi.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lorongedukasi.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lorongedukasi.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lorongedukasi.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lorongedukasi.wordpress.com/207/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lorongedukasi.wordpress.com&blog=1999793&post=207&subd=lorongedukasi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/guruayo-nulis-dong-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e13be1c48144e025f349649ee5c7c275?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">epiet</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meluruskan Arah Perjuangan Kartini</title>
		<link>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/meluruskan-arah-perjuangan-kartini/</link>
		<comments>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/meluruskan-arah-perjuangan-kartini/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 20:55:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>epiet</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/pitstop/wordpress/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Selama ini kita mengenal Kartini sebagai pejuang pergerakan wanita. Surat-suratnya yang dibukukan oleh J.H Abendanon melejitkan kiprahnya dalam perjuangan. Sepak terjang dan pemikirannya inilah kemudian menjadikan Kartini sebagai tokoh pejuang emansipasi wanita dalam sejarah kebangsaan Indonesia.
Menyebut Kartini  sebagai tokoh gerakan emansipasi wanita tentu sebuah penyimpangan dari arah perjuangan Kartini. Hal ini bisa kita telisik secara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lorongedukasi.wordpress.com&blog=1999793&post=206&subd=lorongedukasi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Selama ini kita mengenal Kartini sebagai pejuang pergerakan wanita. Surat-suratnya yang dibukukan oleh J.H Abendanon melejitkan kiprahnya dalam perjuangan. Sepak terjang dan pemikirannya inilah kemudian menjadikan Kartini sebagai tokoh pejuang emansipasi wanita dalam sejarah kebangsaan Indonesia.<br />
Menyebut Kartini  sebagai tokoh gerakan emansipasi wanita tentu sebuah penyimpangan dari arah perjuangan Kartini. Hal ini bisa kita telisik secara historis perjuangan beliau. Kumpulan surat Kartini yang diberi judul <span style="color:#ff0000;"><em><strong>&#8220;Door Duisternis tot Licht: Gedachten Over en Voor Het Javaansche Volk van Raden Ajeng Kartini: </strong></em></span>(Habis gelap terbitlah terang : pemikiran tentang dan untuk orang-orang Jawa dari Raden Ajeng Kartini) menunjukkan bukti beberapa pemikirannya tentang perjuangan. Tampak bahwa surat-surat yang dituliskannya kepada sahabatnya di Belanda bukan saja tentang pemberontakannya terhadap feodalisme yang mengekangnya tetapi juga bertitiktolak pada nasionalisme jauh hari sebelum tulisan-tulisan Bung Karno dan Bung Hatta ada. Inti dari tulisan-tulisannya adalah ingin membebaskan bangsa ini dari kegelapan yang menyelimuti. Pembebasan ini meliputi semua kompnen baik wanita maupun rakyat secara utuh. Jika saja Kartini benar-benar memperjuangkan kaum wanita, mengapa beasiswa belajar di luar negeri yang harus dia terima justru diberikan kepada pemuda dari tanah Sumatra, Agus Salim? Mengapa dia tak mau menjebol tembok yang mengurungnya? Mengapa pula dia harus pasrah ketika harus menikah dengan lelaki beristri?<span id="more-206"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Kartini telah kalah bahkan mati muda. Kartini memang menjadi korban ketidaksetaraan gender. Kartini memang menjadi bagian dari praktek poligami dan feodalisme. Kartini memang cuma sekedar menjadi pemikir yang penulis bukan pembuat aksi.Namun demikian kita harus akui bahwa Kartini merupakan pionir wanita dalam pergerakan nasional. Kartini merupakan pemikir perjuangan modern saat itu. Kartini menjadi inspirasi bagi embrio gerakan feminisme di Indonesia. Jadi jika kita ingin memiliki pahlawan pejuang feminisme, pilihlah pejuang wanita yang sukses di bidang yang biasa dilakukan lelaki. Dewi Sartika sukses menjadi pengusaha, sukses menjadi pendidik.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lorongedukasi.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lorongedukasi.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lorongedukasi.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lorongedukasi.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lorongedukasi.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lorongedukasi.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lorongedukasi.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lorongedukasi.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lorongedukasi.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lorongedukasi.wordpress.com/206/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lorongedukasi.wordpress.com&blog=1999793&post=206&subd=lorongedukasi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/meluruskan-arah-perjuangan-kartini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e13be1c48144e025f349649ee5c7c275?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">epiet</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gengsi Gede-gedean (4 dari 4 tulisan)</title>
		<link>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/gengsi-gede-gedean-4-dari-4-tulisan/</link>
		<comments>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/gengsi-gede-gedean-4-dari-4-tulisan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 20:52:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>epiet</dc:creator>
				<category><![CDATA[didaktik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/pitstop/wordpress/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Harga Yang Mesti Ditebus

Sebagian orangtua memasukkan anaknya ke sekolah favorit dengan harapan mendapatkan mutu pelayanan pendidikan secara lebih profesional. Sekolah yang dikelola secara profesional akan menghasilkan didikan yang baik. Tentu saja keberhasilan tersebut terletak pada diri siswa itu sendiri. Untuk memenuhi semua itu ada harga yang mesti ditebus. Kualitas menentukan harga. Sebagai contoh, harga tiket [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lorongedukasi.wordpress.com&blog=1999793&post=205&subd=lorongedukasi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Harga Yang Mesti Ditebus</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">
Sebagian orangtua memasukkan anaknya ke sekolah favorit dengan harapan mendapatkan mutu pelayanan pendidikan secara lebih profesional. Sekolah yang dikelola secara profesional akan menghasilkan didikan yang baik. Tentu saja keberhasilan tersebut terletak pada diri siswa itu sendiri. Untuk memenuhi semua itu ada harga yang mesti ditebus. Kualitas menentukan harga. Sebagai contoh, harga tiket bus patas AC akan berbeda dengan bus kelas ekonomi. Harga ini untuk menebus rasa nyaman, cepat dan tepat dengan bus patas AC. Pun dengan sekolah favorit. Fasilitas yang lengkap, sumber daya guru yang berkualitas, serta kurikulum yang sesuai keinginan akan dibayar sekalipun mahal.<br />
Predikat yang mereka dapatkan dapat pula menjadi bumerang bagi sekolah. Usaha untuk mempertahankan mutu tak semudah seperti memperolehnya. Berbagai jalan ditempuh. Salahsatu yang tampak adalah penyaringan siswa ketika penerimaan siswa baru melalui berbagai tes yang mesti dilakoni siswa. Namun semua usaha ini kadang dinodai oleh oknum-oknum yang ingin memperkaya diri. Titip menitip menjadi modus operandinya. Titipan dari pejabat atau orang paling penting di kota tak dapat ditolak dengan kasak-kusuk tawar menawar harga sebagai “paspor”. Semua itu dilakukan demi sebuah gengsi semata.<br />
Terlepas dari semua itu, betulkah sekolah favorit melulu menjadi tempat mencetak anak yang berprestasi? Betulkah input serta fasilitas menjadi faktor utama predikat sekolah favorit?. Memang benar, kebanyakan sekolah favorit memiliki kualitas yang baik, tetapi input serta fasilitas bukan satu-satunya penentu. Proseslah yang membentuk siswa menjadi manusia pembelajar. Meski demikian, favorit maupun non-favorit keduanya memilki kesempatan yang sama untuk menghasilkan siswa yang berprestasi. Jika gengsi menjadi tujuan utama masuk sekolah favorit, barangkali sekolah tidak menjadikannya sebagai ladang bagi pembusukan pendidikan. Semua ini semata-mata demi menjamin kredibilitas sekolah tersebut di mata masyarakat.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lorongedukasi.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lorongedukasi.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lorongedukasi.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lorongedukasi.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lorongedukasi.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lorongedukasi.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lorongedukasi.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lorongedukasi.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lorongedukasi.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lorongedukasi.wordpress.com/205/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lorongedukasi.wordpress.com&blog=1999793&post=205&subd=lorongedukasi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/gengsi-gede-gedean-4-dari-4-tulisan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e13be1c48144e025f349649ee5c7c275?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">epiet</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gengsi Gede-gedean (3 dari 4 tulisan)</title>
		<link>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/gengsi-gede-gedean-3-dari-4-tulisan/</link>
		<comments>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/gengsi-gede-gedean-3-dari-4-tulisan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 20:51:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>epiet</dc:creator>
				<category><![CDATA[didaktik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/pitstop/wordpress/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Proses Menuju Kualitas

Beberapa waktu yang lalu sebuah pernyataan tercetus dari seorang teman, beliau mengatakan bahwa sekolah A merupakan sekolah favorit sebab memiliki gedung yang megah. Wajar jika beberapa kalangan mengemukakan pendapat serupa sebab Kenyataan di lapangan sekolah favorit identik dengan gedungnya yang megah. Tetapi apakah fisik ini menjadi acuan utama yang menentukan favorit atau tidaknya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lorongedukasi.wordpress.com&blog=1999793&post=204&subd=lorongedukasi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Proses Menuju Kualitas</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">
Beberapa waktu yang lalu sebuah pernyataan tercetus dari seorang teman, beliau mengatakan bahwa sekolah A merupakan sekolah favorit sebab memiliki gedung yang megah. Wajar jika beberapa kalangan mengemukakan pendapat serupa sebab Kenyataan di lapangan sekolah favorit identik dengan gedungnya yang megah. Tetapi apakah fisik ini menjadi acuan utama yang menentukan favorit atau tidaknya sebuah sekolah?<br />
Ada pula yang berpendapat bahwa sekolah favorit terbentuk karena kualitas lulusannya. Kualitas lulusan ini akan tercapai jika input di sekolah itu berkualitas pula. Adalah hal yang biasa jika sekolah mendapat murid yang berkualitas, wajar jika lulusannya pun berkualitas. Bagaimana jika sekolah mau dan mampu menerima siswa yang biasa-biasa saja kemudian lulus menjadi siswa yang luar biasa?.<br />
Menjadi sekolah favorit tidak sekonyong-konyong terjadi oleh sebuah mantra simsalabim abakadabra. Butuh banyak faktor sebagai amunisi memperoleh kualitas sekolah. Amunisi yang menjadi ruh laju berkembangnya sebuah sekolah. Pertama, kurikulum. Kurikulum sebagai suatu system menjalankan pendidikan menjadi tonggak utama keberhasilan memanusiakan manusia. Kurikulum yang mampu menjembatani siswa mengerahkan segala lemampuan yang dimiliki. Kurikulum yang membebaskan siswa dari kungkungan salah satu ranah saja. Kedua, Ghirah ( semangat ) guru yang terjun langsung di lapangan. Semangat yang dilandasi niat yang tulus ikhlas serta penuh gairah untuk membantu siswa menemukan kompetensinya. Guru yang tak segan-segan keluar dari zona nyaman demi menemukan inovasi-inovasi pembelajaran yang lebih atraktif  dan membelajarkan siswa. Guru yang pantang menyerah untuk membuat siswa betah menikmati pelajaran hingga tak terasa bel berdentang. Ketiga, sarana dan prasarana. Sarana memang bukan hal pokok yang akan menentukan kualitas tetapi penting untuk mendukung proses pembelajaran. Banyak pihak menyetujui jika sekolah favorit terletak pada fasilitas yang memadai dan lengap. Harapannya, fasilitas ini dapat menjadi sarana yang mampu menjadi tempat siswa mencurahkan bakat,minat serta kreatifitas mereka. Ketiga faktor tersebut jika dijalankan penuh keterpaduan,maka tak pelak sekolah akan mendapatkan hasil yang diinginkan.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lorongedukasi.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lorongedukasi.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lorongedukasi.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lorongedukasi.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lorongedukasi.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lorongedukasi.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lorongedukasi.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lorongedukasi.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lorongedukasi.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lorongedukasi.wordpress.com/204/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lorongedukasi.wordpress.com&blog=1999793&post=204&subd=lorongedukasi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/gengsi-gede-gedean-3-dari-4-tulisan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e13be1c48144e025f349649ee5c7c275?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">epiet</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gengsi Gede-gedean (2 dari 4 tulisan)</title>
		<link>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/gengsi-gede-gedean-2-dari-4-tulisan/</link>
		<comments>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/gengsi-gede-gedean-2-dari-4-tulisan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 20:49:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>epiet</dc:creator>
				<category><![CDATA[didaktik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/pitstop/wordpress/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Awalnya biasa saja

Predikat favorit yang diberikan masyarakat kepada suatu sekolah merupakan kehormatan bagi sekolah itu. Predikat ini merupakan pengakuan terhadap kepuasan stakeholder pendidikan. Predikat tersebut tentu saja tak akan terjadi tanpa sebab. Ada sebuah runtutan sejarah sebagai konsekwensi logis predikat yang diberikan. Apapun nama sekolah, dan di manapun keberadaan sebuah sekolah semua berhak mendapatkan predikat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lorongedukasi.wordpress.com&blog=1999793&post=203&subd=lorongedukasi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Awalnya biasa saja</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">
Predikat favorit yang diberikan masyarakat kepada suatu sekolah merupakan kehormatan bagi sekolah itu. Predikat ini merupakan pengakuan terhadap kepuasan stakeholder pendidikan. Predikat tersebut tentu saja tak akan terjadi tanpa sebab. Ada sebuah runtutan sejarah sebagai konsekwensi logis predikat yang diberikan. Apapun nama sekolah, dan di manapun keberadaan sebuah sekolah semua berhak mendapatkan predikat ini. Semuanya berawal dari hal yang biasa menjadi luar biasa.<br />
Awalnya mungkin masyarakat masih memandang sebelah mata sebuah sekolah. Namun tatkala sekolah tersebut mampu berkiprah dalam kancah persaingan prestasi dan unjuk gigi dengan sekolah lain, lambat laun sekolah tersebut mulai dilirik oleh masyarakat. Dominasi beberapa kejuaraan yang berhasil disabet para siswa, lulusan dengan nilai tertinggi saat ujian, hingga banyaknya jumlah lulusan yang diterima di sekolah lanjutan yang favorit menjadi martir sekolah mendapatkan predikat tersebut. Keberhasilan sekolah inilah yang mengundang Tanya tentang seluk beluk sekolah itu. Mereka akan mencari informasi selengkapnya tentang sekolah. Sekolah mulai menjadi tempat pendidikan formal yang paling banyak di cari.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lorongedukasi.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lorongedukasi.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lorongedukasi.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lorongedukasi.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lorongedukasi.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lorongedukasi.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lorongedukasi.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lorongedukasi.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lorongedukasi.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lorongedukasi.wordpress.com/203/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lorongedukasi.wordpress.com&blog=1999793&post=203&subd=lorongedukasi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/gengsi-gede-gedean-2-dari-4-tulisan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e13be1c48144e025f349649ee5c7c275?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">epiet</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gengsi Gede-gedean (1 dari 4 tulisan)</title>
		<link>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/gengsi-gede-gedean-1-dari-4-tulisan/</link>
		<comments>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/gengsi-gede-gedean-1-dari-4-tulisan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 20:47:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>epiet</dc:creator>
				<category><![CDATA[didaktik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/pitstop/wordpress/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Negeri atau swasta?
Bulan Juli dunia pendidikan memiliki gawe massal. Tiap warga negara dari berbagai kelas sosial berbondong-bondong memasukkan anaknya bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Seluruh jenjang pendidikan dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) hingga PT ( Perguruan Tinggi ). Zaman dahulu sekolah negeri menjadi tujuan pertama orangtua menyekolahkan anaknya. Seiring perkembangan zaman, kini sekolah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lorongedukasi.wordpress.com&blog=1999793&post=202&subd=lorongedukasi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="color:#ff0000;"><strong>Negeri atau swasta?</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Bulan Juli dunia pendidikan memiliki gawe massal. Tiap warga negara dari berbagai kelas sosial berbondong-bondong memasukkan anaknya bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Seluruh jenjang pendidikan dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) hingga PT ( Perguruan Tinggi ). Zaman dahulu sekolah negeri menjadi tujuan pertama orangtua menyekolahkan anaknya. Seiring perkembangan zaman, kini sekolah swasta pun mampu bersaing dengan sekolah negeri, bahkan banyak dari sekolah-sekolah itu menorehkan prestasi lebih dibandingkan sekolah negeri. Oleh karena itu, negeri atau swasta bukan motivasi utama tetapi sekolah favoritlah yang menjadi pelabuhan pertama tiap tahun. Dengan berbagai cara orangtua berusaha masuk ke sekolah yang dianggap favorit.</p>
<p style="text-align:justify;">Favorit, kata yang mewakili sesuatu yang paling dicari dan diminati. Warna favorit, makanan favorit. Predikat favorit tentu saja bukan tanpa sebab. Seperti halnya dengan julukan kyai, ulama, atau pun ustadz. Favorit merupakan klaim dari masyarakat terhadap keberadaan sekolah tersebut. Semakin panjang antrian, semakin banyak orang berjubel diloket pendaftaran menjadi indikasi rating sekolah tersebut. Sekolah menjadi pusat perhatian layaknya selebritis berjumpa dengan fans-nya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lorongedukasi.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lorongedukasi.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lorongedukasi.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lorongedukasi.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lorongedukasi.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lorongedukasi.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lorongedukasi.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lorongedukasi.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lorongedukasi.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lorongedukasi.wordpress.com/202/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lorongedukasi.wordpress.com&blog=1999793&post=202&subd=lorongedukasi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/gengsi-gede-gedean-1-dari-4-tulisan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e13be1c48144e025f349649ee5c7c275?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">epiet</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Euforia Sekolah Gratis</title>
		<link>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/euforia-sekolah-gratis/</link>
		<comments>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/euforia-sekolah-gratis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 20:42:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>epiet</dc:creator>
				<category><![CDATA[didaktik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/pitstop/wordpress/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Siapa yang tak tergiur membaca atau mendengar iming-iming gratis. Sesuatu yang datang tanpa kita meminta dan mengeluarkan modal apapun jua. Setiap orang tak bisa memungkiri hal tersebut apalagi di zaman yang kian sulit ini. Mereka yang menawarkan gratisan bak mendung yang datang memberikan harapan datangnya air hujan bagi ladang-ladang yang tandus. Pun dengan hembusan surga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lorongedukasi.wordpress.com&blog=1999793&post=15&subd=lorongedukasi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Siapa yang tak tergiur membaca atau mendengar iming-iming gratis. Sesuatu yang datang tanpa kita meminta dan mengeluarkan modal apapun jua. Setiap orang tak bisa memungkiri hal tersebut apalagi di zaman yang kian sulit ini. Mereka yang menawarkan gratisan bak mendung yang datang memberikan harapan datangnya air hujan bagi ladang-ladang yang tandus. Pun dengan hembusan surga berupa sekolah gratis. Kesempatan memperoleh pendidikan secara cuma-cuma adalah harapan semua terutama rakyat kecil. Namun kenyataan berbicara lain. Iming-iming tersebut hanya keluar pada saat-saat tertentu. Saat-saat yang menentukan maju dan tidaknya seseorang kepada jenjang kekuasaan.<span id="more-15"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Perlu beberapa kajian yang matang atas gagasan sekolah gratis ini. Beberapa kasus membuktikan bahwa segala hal yang berbau gratisan biasanya tidak berbuah maksimal. Jika dalam hukum perdagangan dikatakan ono rego ono rupo. Barang yang diberikan secara gratisan tidak akan mempunyai mutu dan kualitas yang sama sebagaimana barang yang dibeli dengan membayar.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana dengan siswa yang sekolah gratisan? Diprediksikan mereka akan menyepelekan hal tersebut. Kesungguhan mereka bersekolah tidak sebanding dengan sekolah yang berbayar. Tokh orangtua mereka tidak akan rugi jika mereka lantas berhenti di tengah jalan karena semuanya gratis.</p>
<p style="text-align:justify;">Guru sebagai orang yang berada di garis depan sama dengan kita semua. Mereka juga manusia yang bekerja guna memenuhi kebutuhan keluarga. Jika mereka bekerja mengajar di sekolah gratis, bagaimana sekolah tersebut mendapatkan uang untuk memberi gaji guru? Lain cerita jika mereka telah dibayar oleh pemerintah. Mau serius ataupun tidak para muridnya belajar yang penting gaji mereka utuh tak terkurangi dari pemerintah. Hal inilah yang mematikan semangat para guru dalam mendidik siswa terutama jika memang ada sekolah gratisan.<br />
Bagaimana dengan sarana dan prasarana sekolah. Alat tulis, buku dan lain sebagainya. Darimanakah biaya tersebut didapat untukmemenuhi kebutuhan sekolah jika semuanya gratisan? Syukur kalau ada donator tetap yang menyokong dana sekolah tersebut, kalau tidak?</p>
<p style="text-align:justify;">Bukan berarti hal tersebut membuat kita surut untuk mewujudkan sekolah gratis, namun perlu kiranya kita berpikir secara logis dan berdasarkan kenyataan bukan hanya sebagai mimpi ataupun iming-iming belaka.  Semuanya perlu langkah yang jelas dan konkrit. Jika demikian kita tak perlu merasa takut ataupun terjebak pada janji-janji atas nama gratisan. Banyak celah untuk mewujudkan sekolah gratis. Minimal sekolah murah sehingga orangtua tidak terlalu berat menanggung beban biaya pendidikan anaknya. Sebagai contoh dana BOS telah bergulir. Barangkali pemberian beasiswa kepada siswa yang berprestasi juga merupakan langkah tepat mewujudkan sekolah gratis. Siswa akan bersemangat untuk berlomba meraih beasiswa tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8230;ditulis pada tanggal 5 November 2008&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang pemerintah sudah mewujudkan sekolah gratis&#8230;.bagaiamana nasib sekolah gratis? lihat tulisan selanjutnya&#8230;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lorongedukasi.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lorongedukasi.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lorongedukasi.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lorongedukasi.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lorongedukasi.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lorongedukasi.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lorongedukasi.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lorongedukasi.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lorongedukasi.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lorongedukasi.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lorongedukasi.wordpress.com&blog=1999793&post=15&subd=lorongedukasi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lorongedukasi.wordpress.com/2009/09/26/euforia-sekolah-gratis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e13be1c48144e025f349649ee5c7c275?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">epiet</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>