Paradigma adalah cara kita melihat (mempersepsi, mengerti, menafsirkan) dunia –disebut juga worldview atau mafahim ‘ani al-insan, wa al-kaun, wa al-hayat.
Cara pandang menentukan sikap atau perilaku dan perasaan. Ketika melihat dengan cara yang berbeda, maka akan berfikir dengan cara yang berbeda — merasa dengan cara yang berbeda — dan berperilaku yang berbeda pula. Cara kita melihat masalah merupakan masalah itu sendiri. Pertanyaannya adalah berpusat pada apa kita menyikapi masalah tersebut?
Alimi, pria yang memiliki mobilitas tinggi. Tiada yang tahu keberadaannya yang pasti manakala jam istirahat / kosong di kantornya. Suatu ketika dia memakai jaket saat jam kantor. Wajar bukan jika seseorang itu memakai jaket? Sikap Alimi ini menimbulkan pertanyaan di kalangan teman sejawatnya. Terlebih posisinya berada di ruang tata usaha, tempat biasa bagi karyawan yang akan ijin keluar kantor. Teman-temannya yang lewat memperhatikan dia. “Jangan-jangan, dia mau ijin pulang nih. Gimana sih, jam kantor khan belumlah usai, tugas masih ada” kata teman itu yang aku dengar sendiri.
Jujur jika kita mau mengakui, pernahkah kita memiliki prasangka negatif? Su’uzon? Wajar saya katakan karena kita melihatnya dari paradigma kita. Bagaimana jika melihatnya dari sudut pandang yang berbeda? Alangkah bahagianya jika kita tumbuhkan prasangka positif terhadap masalah tersebut. Katakan saja,”oh..Kayaknya Alimi lagi demam nih. Semoga saja dia lekas sembuh”.
Ya, Paradigma-paradigma tersebut pasti akan mempengaruhi jiwa dan pikiran kita. Maka salahsatu menikmati hidup bahagia adalah melihat paradigma yang muncul dari berbagai sudut pandang. Angga teman saya waktu kuliah pernah berkata,”if you think you can, you can”. Jika kita berpikir kita bisa, kita pasti bisa. Jika kita berpikir negatif, maka negatiflah kita. Jika kita berpikir positif, maka postiflah diri kita. Bukankah Allah pun telah menegaskan bahwa Aku adalah apa yang hamba-Ku pikirkan.