Guru diantara 2 dimensi. Ya, itu adalah istilah yang saya sebut untuk menempatkan guru saat ini. Guru dalam dimensi alam nyata dan guru saat berada di dimensi maya. Guru dalam dimensi alam nyata sering kita jumpai manakala berada di lingkungan sekolah atau pun di luar sekolah, sedangkan posisi guru di dimensi maya saat ini sering dijumpai dalam situs social network.
Perkembangan teknologi saat ini secara tidak langsung menampar seorang guru agar sadar untuk mengikuti perkembangan tersebut. Saat ini yang masih booming adalah gejala facebooker. Sifat Facebook yang mengakomodir jaringan pertemanan adalah media yang efektif guna menjalin hubungan dengan siswanya. Saya tidak akan membahas tentang sisi negatif facebook dan dampaknya namun saya akan lebih menyoroti pada bagaimana facebook membangun hubungan emosional antara guru dan murid.



Kemarin saat saya hendak pulang dari
sekolah, saya berbincang dengan salahsatu siswa. ia menanyakan perihal permainan ya tidak di facebook. Permainan ya tidak adalah sebuah aplikasi permainan yang dapat dimainkan di faceb

ook. Tertarik seklaigus pensasaran saya pun langsung membuka status-status yang masuk dari para siswa. Benar,
beberapa siswa mengirimkan hasil permainan ya tidak dalam facebook di dinding saya.
Hasil yang diberikan mulai dari hal-hal yang bersifat pribadi hingga hal-hal yang menyangkut penilaian tindakan saya terhadap siswa di kelas. Dari itulah saya melihat ada sebuah kejujuran untuk diungkapkan tentang bagaimana mereka memandang sosok gurunya bagi kehidupan mereka. Ini barangkali tidak kita temukan
dalam dimensi nyata. Entah karena takut atau malu tetapi yang jelas facebook telah memantik cara pandang di atas landasan kejujuran buat mereka.Lantas bagaimana guru sebagai seorang pribadi menyikapi hal ini?
Pernah saya mendengar keluhan dari teman guru akibat hasil aplikasi quiz facebook yang menilai tentang sikapnya. Sontak ia marah dan sempat terucap kata-kata ancaman untuk mencari sang murid. Dari kacamata saya, hal ini seharusnyalah menjadi sesuatu yang efektif untuk menilai diri kita dihadapan murid-murid. Ini bisa kita gunakan untuk membangun hubungan emosional antara kita dan mereka. Bukankah rata-rata anak dapat menangkap pelajaran dari guru jika anak tersebut menyukai gurunya ( suka bukan dalam arti sukanya terhadap seorang kekasih lho
) Nah, jika demikian maka mudah bagi guru untuk menyisipkan nilai-nilai kehidupan bagi mereka. Oleh karena itu, bangun kedekatan emosi dengan murid jika kita benar-beenar ingin menjadi pendidik. terimakasih atas evaluasinya dalam facebook adalah hal yang mulia diucapkan manakala kita mendapatkan hasilnya.
