Tak Ada Angka Dua Saat Kita Memilih

Tak ada angka dua saat kita memilih karena memilih merupakan sebuah keputusan atas satu hal. Seperti saat ini yang aku rasakan. Semalam saya mendapat sms dari leuarga di Pekalongan bahwa Budhe meninggal. Esok akan dikebumikan pada pukul 10.00 wib. Budhe adalah orangtua kita juga dan sebagai anak, patutlah jika harus hadir dalam acara pemakaman tersebut.Ini hanya satu pilihan tetapi bagaimana jika ternyata esok hari adalah saat anak-anak ujian praktik akhir semester di sekolah. Baru inilah aku dihadapkan pada dua pilihan yang masing-masing memiliki sebuah alasan yang harus dilaksanakan.

Tak mungkin bukan jika aku melakukan keduanya mengingat jarak antara Semarang dan Pekalongan tidaklah cukup ditempuh dalam waktu 2-5 menit. Jika aku memilih salahsatu tentu ada sebuah konsekwensi logis yang akan aku terima. Pertimbangan demi pertimbangan menjadi bahan pilihan untuk sebuah keputusan. Jika aku memilih pulang ke Pekalongan saat itu juga berarti ada 60 siswa yang terlantar dan terancam batal ikut ujian praktik akhir semester karena tak ada pengganti guru dalam pelaksanaan ujian tersebut. Tentu saja cemoohan dan komplain dari beberapa orang akan menjadi sebuah cubitan kecil di hati ini nantinya. Jika aku memilih untuk melaksanakan kewajibanku sebgai guru pengampu pelaksanaan ujian praktik di sekolah berarti kesempatan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Budhe sirna. Tentu saja cemoohan keluarga bakal menimpa.

Tak ada angka dua saat kita memilih dan kita harus membuat satu keputusan untuk sebuah tindakan, bukan dua.Mengingat konsekwensi logis yang diterima adalah sama yakni sebuah cemoohan, maka aku putuskan untuk ikut melaksanakan kewajibanku sebagai guru pengampu ujian praktik di sekolah. setelah itu langsung aku menuju ke Pekalongan untuk menyampaikan belasungkawa kepada keluarga. Andai saja tidak pada saat ujian mungkin aku memilih pulang, tetapi inilah kenyataan yang cukup pelik.Kenapa? ya, aku harus melihat dan memikirkan berapa banyak orang yang menjadi korban dengan tindakanku. Seberapa besar kemungkinan pilihan itu akan berimbas dalam kehidupanku kelak. Seberapa besar peran ku dalam sebuah tindakan tersebut, tergantikan ataukah tidak?

Maafkan aku Budhe karena tidak bisa mengantarkanmu hingga menuju peristirahatan terakhir. Kepada seluruh kakak dan adik serta sepupu, aku harap kalian mengerti dengan kedudukan, fungsi dan posisiku saat ini. Bukan…bukan karena cemoohan yang bakalan aku terima tetap ini adalah masalah kewajiban. Aku berharap seklah dapat memberikan hak ku sebagai anak untuk pulang ke Pekalongan setelah aku tunaikan kewajibanku sebagai guru di sekolah.
Semoga tindakanku ini mendapat ridho-Mu Ya Allah, maka kupasrahkan pilihan yang pelik ini ke dalam Penjagaan-Mu duhai Yang Maha Pemelihara.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s