Ketika memberikan semacam semiloka tentang kegiatan menulis, saya lebih suka berbagi pengalaman menulis ketimbang memberikan teori atau pelbagai peraturan tentang menulis. Meskipun saya tahu persis bahwa sebuah pengalaman—jika diwacanakan—akan muncul bangunan sebuah teori atau peraturan. Tetapi, teori atau peraturan tersebut—yang muncul dari pengalaman—tidak akan mengerangkeng atau memutlakkan sesuatu. Dengan berbagi pengalaman, saya ingin sekali pengalaman menulis saya tersebut dapat dipakai sebagai pijakan seseorang untuk menemukan teori atau peraturan yang cocok dengan diri orang yang ingin memanfaatkan pengalaman menulis saya.
Sesungguhnya tidak ada masalah ketika seseorang mengikuti sebuah teori atau peraturan menulis yang diciptakan oleh seseorang. Teori dan peraturan jelas amat bermanfaat untuk memandu diri kita agar dapat belajar dan berlatih menulis sesuai dengan standar atau patokan yang benar. Namun, saya sering mendapati kenyataan ini—bahkan saya sediri pernah mengalaminya—bahwa sebuah teori kemudian membatasi kebebasan diri kita. Teori tersebut seakan-akan memberikan kita alarm bahwa jika kita tidak menjalankan kegiatan menulis sesuai petunjuk teori tersebut, kita akan tidak mampu menulis dengan benar. Akan jelas sekali bahwa jika ketika kita mengikuti teori menulis yang seperti ini, kita pun kemudian akan tidak berdaya ketika menjalankan kegiatan menulis.
Dalam kesempatan ini, saya ingin menunjukkan kepada Anda bagaimana saya membangkitkan motivasi untuk, secara kontinu dan konsisten, dapat setiap hari berlatih menulis. Saya memahami sekali bahwa menulis itu sebuah keterampilan—sama persis dengan keterampilan menyetir mobil, berenang, memasak, menendang bola, dan sebagainya. Artinya, jika kita ingin menguasai dengan baik keterampilan menulis, tentulah kita harus rajin dan bersemangat tinggi dalam berlatih menulis. Memang, banyak rintangan dan godaan dalam berlatih menulis. Salah satunya adalah mengatasi rasa malas dan bagaimana terus mengobarkan semangat dan gairah untuk menulis. Nah, saya biasa menggunakan AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku?) untuk senantiasa mengobarkan semangat dan gairah menulis.
Ketika memberikan semacam semiloka tentang kegiatan menulis, saya lebih suka berbagi pengalaman menulis ketimbang memberikan teori atau pelbagai peraturan tentang menulis. Meskipun saya tahu persis bahwa sebuah pengalaman—jika diwacanakan—akan muncul bangunan sebuah teori atau peraturan. Tetapi, teori atau peraturan tersebut—yang muncul dari pengalaman—tidak akan mengerangkeng atau memutlakkan sesuatu. Dengan berbagi pengalaman, saya ingin sekali pengalaman menulis saya tersebut dapat dipakai sebagai pijakan seseorang untuk menemukan teori atau peraturan yang cocok dengan diri orang yang ingin memanfaatkan pengalaman menulis saya.
Sesungguhnya tidak ada masalah ketika seseorang mengikuti sebuah teori atau peraturan menulis yang diciptakan oleh seseorang. Teori dan peraturan jelas amat bermanfaat untuk memandu diri kita agar dapat belajar dan berlatih menulis sesuai dengan standar atau patokan yang benar. Namun, saya sering mendapati kenyataan ini—bahkan saya sediri pernah mengalaminya—bahwa sebuah teori kemudian membatasi kebebasan diri kita. Teori tersebut seakan-akan memberikan kita alarm bahwa jika kita tidak menjalankan kegiatan menulis sesuai petunjuk teori tersebut, kita akan tidak mampu menulis dengan benar. Akan jelas sekali bahwa jika ketika kita mengikuti teori menulis yang seperti ini, kita pun kemudian akan tidak berdaya ketika menjalankan kegiatan menulis.
Dalam kesempatan ini, saya ingin menunjukkan kepada Anda bagaimana saya membangkitkan motivasi untuk, secara kontinu dan konsisten, dapat setiap hari berlatih menulis. Saya memahami sekali bahwa menulis itu sebuah keterampilan—sama persis dengan keterampilan menyetir mobil, berenang, memasak, menendang bola, dan sebagainya. Artinya, jika kita ingin menguasai dengan baik keterampilan menulis, tentulah kita harus rajin dan bersemangat tinggi dalam berlatih menulis. Memang, banyak rintangan dan godaan dalam berlatih menulis. Salah satunya adalah mengatasi rasa malas dan bagaimana terus mengobarkan semangat dan gairah untuk menulis. Nah, saya biasa menggunakan AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku?) untuk senantiasa mengobarkan semangat dan gairah menulis. ( Hernowo )
Like this:
Be the first to like this post.
Saya Sepakat, setujuu