Sejarah untuk Pendidikan Karakter

Bukan hal baru karena sering didengungkan jika kita berbicara sejarah untuk pendidikan karakter. Kenyataannya harapan itu jauh dari substansi pokok pembelajaran sejarah bagi siswa. Situasi yang berkembang dan masih menjadi paradigma adalah belajar sejarah sama dengan belajar menghafalkan nama tokoh dan peristiwa saja. Tak heran jika siswa merasa enggan dan bosan dengan pelajaran satu ini. Bagaimana tidak sedangkan muatan materi sejarah Sekolah Dasar terulang pada materi yang didapatkan di bangku Sekolah Menengah.

Beberapa guru sejarah tak bisa berkutik manakala dihadapkan pada bentuk tes pelajaran sejarah. Sebagian besar bahkan hampir semua bentuk soal tersebut hanya mengambah pada ranah kognitif. Guru senantiasa dituntut untuk mencapai standar ketuntasan minimal sehingga tak pelak mempengaruhi pola pembelajaran sejarah di kelas. Akhirnya pembelajaran yang ditempuh hanya sekadar mempersiapkan siswa dapat mengerjakan soal tes dengan benar, drill soal dan/atau dikte menjadi andalan .

Kita sadari benar bahwa hasil sebuah proses pembelajaran dapat dievaluasi dengan sesuatu yang terukur dengan kuantitas nilai. Ranah kognitif sangat memungkinkan untuk hal tersebut namun bagaimana dengan penilaian karakter? Idealnya pembelajaran sejarah diberikan agar siswa dapat mengambil hikmah dari peritiwa tersebut serta dapat menerapkannya sebagai nilai tata pergaulan di masyarakat, tetapi dalam hal ini instrument penilaiannya seperti apa?. Apa yang bisa kita pakai untuk menilai perilaku dan karakter setiap siswa?

Penilaian kognitif perlu namun juga kita bisa mengembangkan unsur nilai untuk membangun karakter siswa. Beri kesempatan pada siswa untuk merenung dan menemukan hikmah di balik setiap peristiwa sejarah. Dalam sebuah kesempatan saya mencoba untuk menyisipkan pendidikan karakter ini pada mata pelajaran sejarah. Setiap siswa saya berikan dua buah pertanyaan yang terdiri dari soal kognitif dan soal sikap dalam bentuk ujian lisan. Sebagai contoh tentang tokoh Syahrir yang mendengar kali pertama berita kekalahan Jepang lalu menyiarkannya kepada seluruh pemuda di Indonesia.  Rata-rata siswa mampu menyelesaikan soal ini  dengan jawaban sesuai bahasa mereka masing-masing. Soal berikutnya yang saya sampaikan adalah bagaimana siswa dapat mengambil pelajaran tokoh tersebut untuk dapat diterapkan dalam kehidupan mereka seperti mempelajari pengurangan pada pelajaran matematika . Katakanlah dalam pelajaran matematika 500-200=300, jika dalam keseharian mereka memiliki uang Rp 500,00  lalu dibelanjakan Rp 200,00 berarti sisa yang harus mereka terima adalah Rp 300,00. Bagaimana dengan sejarah tokoh Syahrir? Beberapa siswa meminta waktu untuk berpikir namun ada pula yang langsung menjawab dengan mengatakan bahwa menjadi anak harus selalu tahu berita terkini agar tidak kuper, lainnya mengatakan bahwa suatu pesan harus disampaikan terlebih pesan tersebut penting bagi kemaslahatan bersama.

Dari sinilah kita bisa membawa mereka untuk merefleksikan pelajaran dengan mengaitkan pada pendidikan nilai seperti nasionalisme dan nilai-nilai agama. Sebagai contoh, apa jadinya jika Syahrir tak segera menyampaikan berita penting itu? Tentu kemerdekaan akan tertunda. Apa jadinya jika Rasulullah tak menyampaikan wahyu Tuhan kepada umatnya? Tentu saja kejahilan masih saja melanda.  Perkara bagaimana untuk mengukur perubahan perilaku siswa tugas kita hanya menyampaikan karena perubahan perilaku ada pada bagaimana kita memberikan pondasi tersebut. Kita tidak dapat berharap  seketika itu juga siswa mampu berubah karena perubahan membutuhkan proses evolusi diri  sampai pada batas waktu yang tak pernah bisa kita tentukan.

4 comments on “Sejarah untuk Pendidikan Karakter

  1. Salam kenal. Artikel yang sangat baik, dan saya sangat setuju dengan substansi pemikirannya. Misi pelajaran sejarah adalah untuk mewariskan nilai, yang dari nilai itulah karakter dibentuk. Sejarah harus mampu mengungkap makna (value) di balikperistiwa dan waktu yang dipelajari. Mudah2an artikel ini menginspirasi banya guru Indonesia. Selamat

  2. Aq setuju sama tulisan estu pitarto, sejarah selama ini memang sudah terlanjur dianggap/dstigmakan demikian. Klo qta ingin berinovasi sbg guru sejarah agar pendidikan sejarah jg bernilai karakter maka qta jg hrs membuka wacana peristiwa sejarah kita baik yg sudah lama terjadi maupun yang up to date. Siswa hidup d masa kini, tentu sangat jauh ketika qta mengajak mereka merefleksikan peristiwa masa lalu yg bahkan mereka saja belum lahir, ada baikx qta coba mencari korelasi/analogi peristiwa masa lalu tersebut dengan peristiwa terkini yg diketahui siswa sehingga lebih mudah bagi mereka untuk memahami.
    Misal : materinya tentang masa orde baru(masa Reformasi Indonesia pada th 1998)yg mgkn waktu itu siswa msh kecil jd blm memahami segala yg terjadi di engarax sendiri, kita bisa membuat contoh dg peristiwa terkini yaitu Revolusi di Mesir maupun Tunusia yang disebabkan oleh sebab yang sama, yaitu terlalu lamax sebuah rezim berkuasa shg menyuburkan KKN. Meski nantinya qta jd merembet k sosiologi, yaitu menjelaskan perbedaan antara reformasi dan revolusi.
    Ada kalanya qta memberi kesempatan siswa berpendapat ttg suatu topik terkini, lalu teman yg lain memberi pendapat dan pada akhirnya mereka scr tidak langsung dpt menyimpulkan pelajaran apa yg bisa diambil dari peristiwa tersebut.

    • Oleh karena itu kita wajib mengembalikan nilai-nilai yang harus diajarkan kepada anak dalam mapel sejarah. Inilah tantangan kita terlebih bagi guru sejarah yang telah diakui dengan SERTIFIKASI PROFESIONAL

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s