Kepala sekolah kami (saat saya SMA ) marah bukan kepalang. Hasil ujian nasional kami turun jeblok dari hasil ujian nasional tahun sebelumnya. Menurut beliau angkatan kami adalah angkatan paling parah berdasarkan hasil ujian nasional. Saya akui saat itu kami bagaikan kelinci percobaan. Bentuk ujian seperti itu baru pertama kali diberikan kepada kami. ( Tak heran jika ada angkatan yang diuji cobakan untuk diterapkan standar kelulusan ). Ujian nasional yang diselenggarakan saat itu menggunakan LJK dan seluruhnya adalah pilihan ganda. Soal berbentuk essay yang diharapkan dapat menolong kami tidak ada pada saat itu.
Trauma dengan LJK membuat aku urung mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Sejak saat itu aku begitu phobia jika harus diadapkan pada lembar jawab LJK. Parahnya kemarin aku ikut tes CPNS. Mau nggak mau aku harus berhadapan dengan LJK. Saat ulangan akhir semester di SMP tempatku bekerja pun menggunakan LJK. Berdasarkan surat tugas yang aku terima, aku adalah petugas untuk mengolah nilai dari LJK. Be;lum pernah satu kali pun aku menggunakan mesin untuk mengoreksi LJK. Tanpa rasa malu aku tanya kepada seniorku yang biasanya mengoperasikan alat tersebut. Wow…ternyata seperti itu…MEMBANTU JUGA SIH, KARENA BISA DIKOREKSI DENGAN CEPAT TANPA HARUS MELEK SEMALAM SUNTUK NGOREKSI JAWABAN. LEMBARAN DIMASUKKAN KE SCANER LALU PENCET TOMBOL START DAN….REKETEK….REKETEK..REKETEK….MAK JEDHUL HASIL MUNCUL DI KOMPUTER .
Eiitt…jangan terus berhenti membaca sampai di sini saja, silahkan simak tulisan ini berkutnya
Tunggu dulu, ada yang aneh saat hasil muncul di komputer. Ternyata ada beberapa nomer yang tak ada jawaban dari salahsatu siswa. Kita lantas lihat lembaran aslinya, lho ada jawabannya kok dan sesuai dengan kunci jawaban. Tetapi kok tidak terdeteksi ya? Agar tidak dikatakan guru pembunuh, kami pun rela meluangkan waktu untuk memberikan tanda dari hasil yang muncul di komputer dengan tool yang ada di program ( semacam tool Brush pada program adobe photoshop). Tuntas sudah.
Hasil kemudian kami olah pake excel ( maklum proposalku untuk program pengolahan nilai belum ACC ). Kami serahkan kepada masing-masing guru pengampu. Tak berapa lama kemudian salahsatu guru masuk ke ruangan kami. “Pak,Aristia Ayu kok tidak ada nilainya ya? Kata teman2 nya dia masuk dan ikut ujian pada hari itu, dan berita acaranya pun menerangkan semua anak hadir.”
Kami cek kembali kepada lembar jawaban aslinya. Lho, ternyata memang ada. Barangkali ketika di scan, ikut menempel pada lembar jawaban sebelumnya.
Berdasarkan pengalaman tersebut lantas saya ambil kesimpulan bahwa LJK memang cukup membantu guru dalam hal koreksi. namun juga MEMBUNUH. Jawaban yang harusnya benar jadi tidak terdeteksi mesin scan ( Tergantung kualitas mesin scan nya kali ya ). Berarti selama ini hasil ujian nasionalku semasa SMA begitu jeblok bisa jadi karena masalah teknis ini. Jika semacam ini bisa jadi kecurigaan saya terhadap hasil CPNS kemarin benar adanya seperti yang saya kutip dari Suara Merdeka, 23 Desember 2009 Halaman 20; “Hadi mengungkapkan, setelah dilakukan tes tertulis, lembar jawaban dikoreksi dengan cara scanning. Saat di scanning itu ditemukan ada data-data yang invalid karena pengisiannya tidak jelas.” Sayang ya, Guru berpotensi ( Pintar, prOfesional. akTif, dan krEatif tidak bisa lolos tes cpns gara-gara pengisian yang tidak jelas. Maka sekali lagi saya katakan LJK, MEMBANTU SEKALIGUS MEMBUNUH. MASIHKAH DIPERTAHANKAN?…..
Sebagai seorang pengemar IT anda ngomongnya kok ngalor-ngidul sih……
Justru dengan ngomong ngalor ngidul berarti kita melihatnya dari berbagai sisi. Bukan dari satu sisi saja. Sak_karepq tho!