Siwur

Dua kakak beradik santri, Tasban dan Koncer pulang dari pesantren. Mereka kini harus kembali di masyarakat dan berbaur dengan mereka. Masyarakat tempat mereka tinggal begitu patuh kepada sang Kyai. Sami’na wa Ato’na. Apa yang didawuh sang Kyai maka itulah ketetapan yang berlaku. Tak heran jika mereka kaget setengah hidup begitu tahu kebiasaan yang berbeda dengan ajaran di pesantrennya. Bagaimana tidak, Kyai yang menjadi imam surau dan makmumnya sholat dengan membawa siwur.

Koncer sang adik protes keras pada keadaan ini. Ia termasuk santri keras. Pernah ia dikeroyok lahir maupun batin oleh masyarakat gara-gara tak mau sholat berjamaah (heran ya, sholat khan hak masing-masing individu?). Benar, namun masalahnya adalah Koncer keras menyatakan bahwa ajaran sang Kyai salah. Terang saja masyarakat protes dong begitu idolanya dikatakan salah. Koncer pun bertemu langsung dengan sang Kyai.

“Mbah Yai, sholat membawa siwur itu salah. Ora ana dalile!” protes Koncer pada kyai. Sang Kyai murka. Mukanya merah padam semerah nyala api dalam sekam. Sejak itu Koncer dimusuhi oleh orang-orang seantero desa. Koncer lalu melaporkan kejadian tersebut pada sang kakak, Tasban.

Pada suatu hari Tasban berangkat ke surau. Ia tahu bahwa sholat berjamaah di surau harus membawa siwur. Ia pun mengambil siwur milik simbok dari dapur. Ia tahu pasti bahwa simbok pasti akan marah besar mengetahui alat kesayangannya tak berada di tempat. Setelah dua salam lalu wiridan ala santri Nahdliyin, Tasban menemui sang Kyai.

“Nuwun sewu Mbah Yai, kulo niki lare bodho. mboten ngertos bab agami. Mbok menawi Mbah Yai kersa maringi wejangan bab agami marang kulo”.

“Yo Lhe. Rene-rene! apa sing arep mok takokake?” Sambut Mbah Yai hangat

“Nuwunsewu. Kulo kepingin ngertos bab siwur.Bab punapa kang ndasari kito kedhah mbekta siwur nalika sholat?”

Mbah Yai kemudian mengeluarkan sebuah kitab. Kitab itu tampak tua kelihatan dari warna kertas yang telah usang. Entah sudah berapa generasi kitab tersebut diturunkan dari Mbah Yai sebelumnya.

“Nuwunsewu Mbah Yai, kadosipun kitab menika kok nggih sami kaliyan gadhahipun kula nggih?”

“Mosok tho le. Ayo endhi gawa rene kitabmu iku!”. Tasban bergegas pulang ke rumahnya. Kebetulan letaknya bersebelahan dengan surau tersebut sehingga Mbah Yai tak perlu menunggu lama.

Tasban dengan kitabnya dan Mbah Yai dengan kitabnya pula. Mereka duduk bersama. Membuka halaman yang sama yang memberikan petunjuk tentang siwur.

“Lha Le, kitabmu karo kitabku iki padha. Halamane yo padha ning ana bedane titik nok huruf iki” Kata Mbah Yai sambil menunjuk satu huruf arab yang dimaksud. Memang huruf yang ditunjuk tersebut terdapat satu titik yang berarti siwur.

“Wah salah cetak iki” Komentar Mbah Yai.

“Nuwunsewu Mbah Yai, menawi kersa cobi Mbah Yai pirsani malih huruf punika kantun saksami” Pinta Tasban. Mbah Yai pun melakukan apa yang diminta Tasban. Kitab itu ia pandang dari berbagai sisi. Ia raba dan tak terasa ada sesuatu yang mengganjal di bawah telapak tangannya. sesuatu itu tepat berada di huruf yang berarti siwur. Ia raba sekali lagi. Jarinya mulai otak-atik di atas huruf yang dimaksud.

“oalah Le, Jebule titik iki tai cecek sing nempel tho!” Seru Mbah Yai sambil “nyutik” tai cecek yang telah kering itu. Entah sudah berapa lama tai itu menduduki di sela-sela kertas usang kitab.

“Tha? saiki huruf iku padha karo nggonmu. Bener kowe Le. Artine iku jebule dudu siwur. Astaghfirullah Al Adzhiimi….”

Sejak itu seluruh makmum di surau tak lagi membawa siwur saat shalat. Mbah Yai sadar bahwa gara-gara satu titik saja pada huruf arab membawa arti yang berbeda. Tasban hanya berucap Alhamdulillah.

…Menang tanpa ngasorake…

By estu pitarto Posted in nyantri

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s