Dua Sendok Garam

Tasban dikenal sebagai santri yang periang. Setiap berhadapan dengan Mbah Yai tak pernah sekalipun wajah cemberut tampak di depan gurunya. Mbah Yai amat menyayangi Tasban karenanya.

Pada suatu hari Tasban hadir di depan Mbah Yai dengan raut dahi berkerut, bibir monyong dan tatap mata tertunduk. Mbah Yai tahu bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikiran santrinya ini.

“Hari ini kamu tampak susah sekali,Ngger. Ada apa?”

“Ngapunten Mbah Yai. Saya sudah bosan hidup. Sepertinya beban yang harus saya tanggung teramat berat sekali”

Mbah Yai tahu benar masalah Tasban. Apalagi kalau bukan masalah ekonomi keluarga. Tasban sebagai anak sulung yatim tentu menjadi tulang punggung ibu dan tiga adiknya. Belum lagi anaknya yang masih berumur dua tahun dan istri yang paling ia sayangi.

“Pulanglah Ngger. Ambillah dua sendok garam lalu bawa kemari!” perintah Mbah Yai. Tasban hanya menggerutu dalam hati. Ia protes karena bukan solusi yang Mbah Yai berikan dengan masalahnya justru disuruh mengambil garam. Tasban mengenal betul karakter Mbah Yai maka ia pun segera pulang dan melaksanakan perintah Mbah Yai.

Singkat cerita Tasban sudah kembali berada di hadapan Mbah Yai. Dua sendok makan garam dapur ada di antara mereka.  Mbah Yai masuk ke dalam lalu keluar sambil membawa segelas air putih.

“Ngger, ambil satu sendok garam itu lalu masukkan dalam gelas ini!” perintah Mbah Yai sambil menunjuk air yang ia ambil tersebut. Tasban tak banyak bicara. Ia lakukan perintah gurunya.

“Aduk lalu minumlah!” perintah Mbah Yai selanjutnya.

“Edan! orang punya masalah ditambah lagi masalah dengan minum air garam” gerutu Tasban dalam hati

“Ehemm…ehemm…!” Dahak yang dipaksakan dengan mata melotot ditunjukkan di wajah Mbah Yai. Tasban tahu gelagat ini. Ia sadar Mbah yai yang satu ini memiliki perasa yang luar biasa peka.

“Gimana Ngger rasanya?” tanya Mbah Yai

“Puuiihh…!! Uuaasssiiiinnn Mbah…Huekkk!!”

“Nah, sekarang kamu ikut aku. Jangan lupa bawa garamnya ya!” ajak Mbah Yai. Mereka lantas keluar dari pondok menuju ke sebuah telaga di belakang pondok.

Sampai di pinggir telaga…

“Ngger, masukkan garam itu di telaga ini!” perintah Mbah Yai.

“Sekarang minum air tersebut!” Lanjutnya

“Bagaimana rasanya,Ngger?” tanya Mbah Yai

“Alhamdulillah,Mbah. Uenakk…segerrrr. Mau lagi dong” Pinta Tasban kegirangan. Mbah Yai hanya tersenyum saja melihat tingkah santrinya.

“Ngger, itulah solusi dari masalahmu” Kata Mbah Yai setelah Tasban tampak puas menikmati kesegaran air telaga.

“Maksudnya bagaimana Mbah? Saya kok belum terang. Mohon dijelaskan”

“Garam adalah masalah. Gelas dan telaga ibarat hati. Jika hati kita seluas gelas maka masalah kecil akan menjadi masalah besar. Namun jika hati seluas telaga maka masalah itu tak akan terasa. Hanya nikmat-nikmat yang berasa. Oleh karena itu hati harus legawa menghadapi setiap permasalahan yang menimpa.

“Astaghfirullah…..saya paham Mbah Yai”

By estu pitarto Posted in nyantri

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s