Dari pengertian aslinya guru adala narasumber. Guru punya kedudukan cultural yang tinggi sebagai sumber bagi masyarakat untuk memperoleh ilmu dan kearifan hidup. Dengan kedudukan yang tinggi dan mulia itu fungsi guru harus dihidupkan dengan sikap dedikatif yang tinggi.
Sebagai sosok narasumber seorang guru sebaiknya terus menambah dan memperbarui kapasitas keilmuan dan kekuatan moralnya. Ibarat sumur, harus ada mata air yang terus mengisinya. Tanpa menambah kapasitas secara berkelanjutan fungsinya sebagai guru akan sangat menurun.
Salah satu cara terpenting untuk menambah pengetahuan adalah membaca dan membaca. Membaca adalah mata air abadi yang akan terus mengisi pengetahuan seseorang. Maka membaca buku, koran, majalah, internet adalah wajib bagi para guru bila kapasitas dan kapabilitasnya sebagai pengajar dan pendidik merosot. Jelasnya, guru dan anak didik harus sama-sama giat belajar.
Kegiatan membaca akan lebih efektif bila disertai dengan kegiatan penting lainnya yaitu menulis. Di jagat kepengarangan ada pepatah, tidaklah seseorang akan menjadi penulis bila ia bukan seorang pembaca dan pembelajar.
Kegiatan membaca juga amat penting untuk membangun kekuatan imajinasi yang menjadi faktor utama dalam menciptakan sebuah karya tulis. Faktor lainnya adalah ketramilan teknis menulis yang bisa dibangun melalui latihan-latihan pribadi. Membuat tulisan atau catatan apa saja setiap hari bisa menjadi langkah awal menuju karier menjadi penulis.
(Pokok-pokok pikiran) oleh Ahmad Tohari.
Oleh-oleh Seminar Nasional,”Membudayakan Aktivitas Menulis di Kalangan Guru” yang diselenggarakan oleh AGUPENA JATENG , 25 Juni 2009