Catatan Habis Ngambil BLT Guru

antri blt guruSaya ucapkan terimakasih kepadamu hari para pemerintah. Nasib kami sebagai guru kau perhatikan. Tak kupungkiri bantuan Tunjangan Fungsional setiap bulan sangat membantu kami ketika kami benar-benar membutuhkan. Malu juga jika aku tidak membayar pajak, malu aku jika tak mampu mendedikasikan keahlianku untuk anak bangsa karena uang itu dari mereka juga. Tapi aku ingin sampaikan kepadamu, kenapa tunjangan fungsional itu kau berikan langsung melalui Diknas Pendidikan Kota (Semarang). Padahal dulu tunjangan itu diserahkan melalui kantor pos. Apakah kantor pos telah berbuat selingkuh dengan dana tersebut? Ataukah engkau yang bosan berjodoh dengan kantor pos? Tidakkah kau kasihan dengan kantor pos yang kini sedang bertahan hidup karena pelan-pelan surat tergeser oleh sms.

Aku sempat bertanya kepada petugas yang membagikan, katanya” Biar nggak ada data fiktif”

Emangnya selama ini datanya fiktif? Lantas bukankah data yang mereka terima sekarang ini adalah data-data terdahulu? Apa dong yang terjadi sebenarnya.

Ho…ho…pembagiannya pun lantas aku ingat BLT. Harusnya aku malu jika aku guru (IPS) yang menyuruh muridnya antri, but gurunya sendiri nggak mau antri. Ataukah kekagetan budaya ini membuat otak tak ingat lagi dengan nilai moral yang diberikan di kelas?

nunggu bltDuh, Kasihan teman-teman satu yayasan denganku. Dari jam satu menunggu hingga jam tiga sore. Antri berdesak-desakan ditambah panas dan gerah bau keringat guru-guru selepas mengajar. 600 rb potong pajak telah ada digenggaman teman-teman satu yayasanku. Mereka adalah guru yang telah tetap statusnya. Usaha mereka ternyata tak sebanding dengan jumlah uang yang mereka terima. Bayangkan, betapa bahagianya hati mendapat uang tanpa keringat dari pemerintah. Terbayang dalam benak masing-masing sebuah mobil remote kontrol untuk sang anak lanang, obat untuk istri atau orangtuanya, acara weekend dengan anak istri, buku baru yang jadi incaran sejak sebulan lalu, ataukah pelatihan minggu depan, atau untuk tambah modal usaha sampingan. namun bayangan itu sirna begitu saja karena yayasan pun memotong uang tersebut. Alasan yang biasanya keluar dari pribadi yang sombong,”Bukankah cukup bagimu uang yang telah aku berikan?”. huh…Kayaknya nggak rela jika guru karyawannya kaya kali ya!

Anda pemerintah mau protes kepada mereka? Ho…ho…nggak bisa abisss dong. Lihat aja UU Guru dan Dosen yang kalian buat dan putuskan. Kedudukan kami sebagai guru swasta sangat lemah, karena yayasan tempat kami mengabdi diberikan kewenangan khusus untuk menyelenggarakan pendidikan berdasarkan aturan yayasan. Kayaknya perlu direvisi atau dihapuskan aja ya UU itu?

By estu pitarto Posted in CURHAT

4 comments on “Catatan Habis Ngambil BLT Guru

  1. @Kang Doni. Matur Nuwun. Kapan bisa kopi darat di wedanga jahe?
    @Enggar. Salam Kenal juga pak. Terimakasih udah ngelink blog saya. saya pun kalo boleh ngelink punya bapak. SAATNYA GURU GO BLOG!

  2. sama saya juga pernah mengalami,tapi sekarang malah gak dapat TF lebih dratis lagi turun drajat masuk dana bantuan guru wiyata bakti, itupun baru terdata. anakku bilang:”kasihan deh ibu”

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s