Dalam pandangan Alquran, ilmu merupakan keutamaan yang diberikan manusia oleh Allah sehingga membuat ia unggul dari makhluk lainnya. Sebagaimana diungkapkan dalam surat Al Baqarah ayat 31 – 32 yang artinya; Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!” Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Kata ilmu dan padanannya termaktub sebanyak 854 kali. Ini membuktikan bahwa ilmu merupakan hal yang wajib dimiliki setiap manusia. Manusia menurut alquran memiliki kemampuan untuk dapat meraih ilmu dengan seizin Allah. Allah akan meninggikan derajat manusia yang berilmu dan mengamalkannya. Tentu saja ilmu yang dipelajari dan diamalkan untuk kebaikan seluruh umat dong.
Bagaimana cara memperoleh ilmu tersebut? Allah menegaskan pada surat An Nahl ayat 78 ; Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. Pancaindra adalah sebuah anugrah terindah dari Allah kepada manusia. Atas pemberian-Nya itu, kita wajib mensyukurinya. Kita bisa gunakan pancaindra kita untuk belajar membaca apa yang tertulis dan apa saja yang terjadi di sekitar kita.
Ah, itu khan alat kita untuk belajar namun bagaimana dong caranya supaya ilmu itu bisa kita kuasai kemudian bisa kita amalkan? Baiklah kita akan mencoba bersama-sama mencari cara yang tepat untuk belajar. Pernah makan atau lihat makanan tradisional yang terbuat dari tepung, bentuknya bulat, kulitnya penuh dengan biji wijen dan isinya kacang hijau? Tepat, makanan itu disebut “onde-onde”. Makan onde-onde sekepal tangan. Paling enak dimakan di bersama (lho, kok malah pantun…he..he…). Pada umumnya onde-onde berukuran sebesar satu kepal tangan orang dewasa. Bayangkan jika onde-onde sebesar itu kita makan sekaligus. Pasti seketika itu juga mata kita akan terbelalak seakan mau keluar dari kelopak mata, mulut kita terkunci, dan yang pasti wajah kita akan berubah seperti kodok “ngorek” di pinggir sawah karena “keloloden”. Bukannya menjadi enak tetapi tersiksa jadinya. Bandingkan jika kita makan onde-onde sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit di dalam perut. Onde-onde terasa nikmat, perut menjadi kenyang.
Begitulah jika kita belajar. Bukannya kita nggak pandai ketika angka 30 tertulis di kertas ulangan namun metode atau sikap belajar kitalah yang perlu kita evaluasi. Belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) atau belajar jika hanya ada ulangan esok hari bagaikan menelan sebuah onde-onde sekaligus, alhasil….nilai bisa-bisa JEBLOK!!!. Bandingkan jika kita belajar sedikit demi sedikit tetapi terus-menerus. Alquran saja diturunkan berangsur-angsur ( lihat saja terjemahan alquran surat Al Israa’ ayat 106 ). Mengapa? Jawabannya ada di surat Al Furqaan ayat 32 ( ayo buka terjemahan alquran mu!). Langit dan bumi, Allah pun menciptakan langit dan bumi berangsur-angsur dalam enam masa ( surat Al Huud ayat 7). Malaikat Jibril pun dalam menyampaikan wahyu dilakukan secara berulang-ulang. Dalam suatu riwayat dikemukan bahwa apabila datang Jibril membawa wahyu kepada Nabi SAW. beliau mengulang kembali wahyu itu sebelum Jibril selesai menyampaikannya karena takut lupa lagi. Maka Allah menurunkan ayat ini (Surat Al A’laa ayat 2-6) sebagai jaminan bahwa Rasul tidak akan lupa pada wahyu yang telah diturunkan. (Diriwayatkan oleh at-Thabarani yang bersumber dari Ibnu Abbas. Didalam isnadnya terdapat juwaibir yang sangat lemah.). Jelas bukan cara kita belajar berdasarkan apa yang telah dicontohkan Allah, Rasul dan para malaikat-Nya? Jadi, nunggu apa lagi. Ayo rubah gaya belajarmu!