Akhirnya kubatalkan rencana mengirimkan imel buat kabiddikdasmenku yang baru ketika anak-anak menyerbu. Mereka melaporkan ada suara tangisan di WC putri lantai II. Segera ku pergi ke sana. Tampak dari balik pintu, Vania menangis di atas jamban. Anak-anak lain mengerubung, biasa anak-anak selalu ingin tahu.
“Kenapa kamu menangis nak?”
“huuu….nggak bisa cebok”
Duh biyung,masak aku harus nyebokin sih. Walaupun aku biasa menangani masalah tahi anakku di rumah, tetapi sekarang….
“Kamu bisa cebok sendiri nggak?”
“Bisa, tapi bak airnya terlalu tinggi. Aku nggak bisa ambil airnya,huu”
Oalah, ternyata bukan karena nggak bisa cebok tetapi karena bak kamar mandinya yang terlalu tinggi. Wah, andaikata sekolah ini milikku, besok aku ganti ukuran kamar mandinya sesuai dengan ukuran anak-anak. Taruh saja kamar mandi anak kelas 1-3 ukurannya berbeda dengan kamar mandi anak-anak kelas 4-6.
Pak estu,
blog ini benear-benar pribadi ya. Ya seperti buku harian lah. Aku mau komentar tentang tangisan di wc, tapi bingung mau komentar apa. Ya ini sajalah komentar saya, boleh kan. isinya uneg-uneg dan tanya-tanya saza. ha ha ha. WC di sd ku juga tinggi-tinggi kok pak. Sekarang lumayan airnya ngga pernah asat, dulu sebelum punya sumur artetis wah payah, kotor, bau, jorok. Maaf ya pak komentarnya sekedar komentar saza. Ya semacam numpang lewat lah. Timbang kosong. ha ha