Hari ini aku ikut lomba CD Interaktif Multimedia untuk guru TK/SD/MI/SMP/SMA/MA di LPMP JATENG. Seperti biasanya sebelum perlombaan dimulai ada temu teknik dengan panitia/juri. Salahsatu tema pembicaraan pada malam temu teknik yakni tentang orisinalitas karya yang dilombakan. Aku ingat ketika lomba pembuatan alat peraga beberapa hari yang lalu, orisinalitas karya sempat disinggung.
Satu hal yang aku tangkap dari paparan para panitia tersebut, mereka menghendaki karya kita benar-benar asli. Asli yang dimaksud belum pernah ada sebelumnya. Belum pernah dilombakan sebelumnya. Mohon maaf saja rekan-rekan panitia, perlu kita sadari bersama bahwa dunia ini luas. Tidak mungkin kita membagi diri kita untuk menjelajah seluruh dunia dalam sekejap. Menemukan ada atau tidak, pernah ada atau tidak karya tersebut sama saja dengan mencari jarum di tumpukan jerami.
Bukankah pendidikan adalah proses meniru? Ingat, kita bisa mengucapkan kata “bapak” saat kecil karena orangtua kita mengajarkannya. Thomas Alva Edison, meniru cara kerja Leonardo Da Vinci dengan penemuan-penemuannya. Satu hal yang pasti, kita diberikan anugrah oleh Tuhan akal, budi, dan rasa yang terwujud dalam budaya. Apa yang kita terima lalu kita lakukan tentu saja akan menarik jika kita dapat memodifikasinya. Itulah manusia kreatif. Manusia yang dapat mengejawantahkan suatu paradigma dari sisi lain. Orisinalitas hanya ada pada Tuhan.CUGITO ERGO SUN. Bagaimana menurut anda?
Pengalaman yang sama yang pernah saya alami, saat lomba multimedia interaktif di LPMP Jateng tahun 2006. Juri minta semua content harus orisinil dan semuanya harus orisinil 100%. Ketentuan itu baru aku ketahui setelah penjurian. Ada temen yang saya kira bakal menang lomba karena hasil karyanya sangat bagus, tetapi terbentur orisinilalitas content, maka terdepak.
Saya sepakat dengan konsep Njenengan, bahwa pendidikan adalah proses meniru. Selama untuk tujuan kebaikan demi memajukan pendidikan kita, saya kira “Halalan Thoyyiban” saja meniru hal-hal yang baik.