Scholea

Pendidikan pada dasarnya adalah proses belajar anak untuk menggali kemampuannya secara utuh. Dunia anak adalah dunia bermain. Kita tak dapat memisahkan episode ini dari mereka. Namun ketika mereka beranjak memasuki masa belajar di sekolah, seolah-olah masa bermain mereka terenggut begitu saja. Para orangtua lebih memilih sekolah yang mengajarkan pelajaran secara serius, mendengarkan guru, menghafal dan drilling kepada anak-anaknya. Perlu kita sadari bahwa akar kata sekolah berasal dari bahasa Yunani, yaitu scholea, yang berarti tempat bermain-main atau bersenang-senang. Dengan demikian tidak ada alasan untuk memisahkan proses bermain dalam setiap pelajaran yang anak-anak terima di sekolah.

Bermain merupakan proses belajar. Dengan banyaknya anak-anak bergerak, maka terjadi suatu keterlibatan seluruh badan sehingga membuat anak berkembang. Motoriknya berkembang, begitu juga emosinya karena kegiatan bermain akan melibatkan emosi. Aspek intelektual dan sosialnya juga ikut berkembang karena interaksi dengan sesama.(Ratna Megawangi; 2007). Tiap manusia berkembang dalam hidupnya sebagian besar dipengaruhi oleh kegiatan bermain. Sampai-sampai, banyak orang yang tergila-gila dengan permainan. Lihat saja, setiap pertandingan permainan sepak bola PSIS, GOR Jatidiri selalu dipenuhi banyak penonton dari kecil hingga dewasa. Hal itu membuktikan kalau permainan memang digemari oleh banyak orang.

Bagi guru, permainan merupakan kendaraan untuk belajar bagaimana belajar (learning how to learn) untuk kepentingan siswa. Bermain adalah proses belajar dan proses belajar sebaiknya dengan bermain. Dalam hal ini, proses belajar sambil bermain bukan berarti lepas dari tujuan pokok yang hendak dicapai, sebaliknya justru menunjang proses belajar. Bermain merupakan hal yang paling disukai siswa. Bagi mereka, bermain adalah tugasnya. Melalui bermain, banyak yang dipelajari siswa. Mulai dari belajar bersosialisasi, menahan emosi, atau belajar hal lain, yang semuanya diperoleh secara integrasi. Bermain tidak sekadar untuk memproduksi tawa dan tidak hanya senang-senang. Lebih jauh dari itu, bermain memberikan kesempatan pada siswa untuk mengembangkan kemampuan emosional, fisik, sosial dan nalar mereka.. Melalui bermain, anak juga berkesempatan untuk mengembangkan kemampuan nalarnya, karena melalui permainan serta alat-alat permainan anak-anak belajar mengerti dan memahami suatu gejala tertentu.

One comment on “Scholea

  1. Ping-balik: Permainan Quantum Ubud « LORONG EDUKASI

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s