Rasul bersabda bahwa ada empat perkara yang harus disegerakan. Menerima tamu, menikahkan anak gadis, memakamkan jenazah, membayar hutang. Pada suatu waktu datang seorang tamu ke rumah kami. Sebuah keputusan antara menemui atau tidak menjadi sebuah pergulatan dalam hati. Bayangan wajah sangar penagih hutang minggu lalu masih membekas dalam benak. Jangan-jangan tamu yang datang saat ini salah satu dari mereka. Ah, aku tidak boleh berprasangka buruk seperti itu. Bagaimana jika ternyata tamu itu membawa kabar penting bagi kami? Bagaimana jika yang datang itu adalah Pak Pos yang akan memberikan wessel honor menulisku?.
Sebuah keputusan yang tak mudah. Bismillah, apapun yang terjadi aku harus menemui tamu itu. Niat sudah bulat, tetapi muncul satu persoalan. Bagaimana caraku menjamu tamu itu sedangkan kondisi keuangan kami benar-benar darurat sipil. Sekedar air putih pun tak ada karena kemarau yang tak jua sirna. Air ledeng hingga kini tak nampak setetes pun keluar dari kran.
Bagaimanapun aku harus segera menemui tamu. tamu adalah raja. Harapan satu-satunya adalah warung Pak Tikno. Aku hutang pinjam tiga teh botol untuk tamuku. Aku buka pintu. Nampak dihadapanku seorang teman lama ketika kuliah. Ngalor ngidul kami ngobrol. Satu botol teh utangan pinjaman habis diminum. Puas melepas kangennya pada sahabat lama, akhirnya dia pamit pulang. Perasaan senang ada teman yang berkunjung, Tapi aku juga sedih. Pikirku, kalau tahu begini aku ambil saja satu botol jadi hutangku tidak menumpuk di warung Pak Tikno. Aku kikis segera pikiran negatifku itu. Bismillah Ya Allah, aku serahkan semua ini kepada-Mu.