Menurut Sartono (72), pencipta lagu Hymne Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dalam berita antara menyatakan keprihatinannya tentang kondisi moral siswa yang saat ini banyak yang tidak menghargai dan menghormati guru. Kewibawaan guru mulai luntur. Banyak kasus murid dari SD hingga SMA yang berani melawan sehingga memicu hubunga tidak harmonis. Fenomena apakah ini?
Membaca pernyataan tersebut, saya bulu kuduk saya berdiri semua. Perubahan hegemoni dalam dunia pendidikan telah dimulai. Wajar jika demikian. Banyak benang yang harus kita urai menyikapi permasalahan tersebut.
-
Bagaimana murid bisa menghormati guru jika guru itu sendiri tidak menghormati dirinya sendiri AJINING DIRI ANA ING LATI, AJINING SALIRA ANA ING BUSANA.
-
Guru menganjurkan anak putri berjilbab dan sholat, tetapi orangtua di rumah busananya buka-bukaan, sholat pun matkumatan. Anak jadi bingung siapa yang harus mereka jadikan panutan.
-
Terlalu banyak dikte pada anak. Pembelajaran lebih bersifat dogma yang tak bisa ditawar. Pendapat anak haram untuk diungkapkan. Satu-satunya pendapat yang harus dipakai adalah “GURU”.
-
Guru kalah wibawa dengan media massa ( TV ). Lihat saja gaya pakaian anak-anak masa kini, jiplek sinetron.
-
Terlalu banyak guru yang JARKONI.
-
Guru lupa akan fitrahnya.
-
masih adakah yang lainnya….? mohon masukan
memang zaman sekarang guru itu di anggap seperti angin lalu.
padahal ga mungkin orang2 bisa seperti ini, tahu komputer, membaca, kalo g ada guru. tanpa guru mau jadi apa manusia?????????
lihat dong jepang n amerika,,,,, guru still the best person
g kya indonesia.polotik yes……..
pendidikan NANTI DULU 1239080967 TAHUN AKAN DTG