Dimana-mana bayi selalu menarik perhatian manusia yang melihatnya. Kesucian yang terpancar dari rona wajahnya bagai medan manet yang menghipnotis orang tuk mengasihinya. Tiada dendam, kebencian, dan angkara murka tertanam dalam hatinya. Hati nan suci dari surgawi. Mungkin inilah yang membuat aku terdiam terpaku memandang anakku berjam-jam sambil sesekali menyanyikan kidung rumeksa ing wengi. Saking asyiknya sehingga aku lupa bahwa hari ini aku mesti berangkat menuju ladang amal yang aku cangkul setiap hari demi sekepal nasi dan susu anakku.
Honda Supra Fit yang belum kelar kreditnya aku tancap gas pol berpacu dengan jam dinding kantor yang terus berdetak. Tak ayal lagi aku terlambat.Penuh rasa percaya diri aku masuk menuju halaman parkir sekolah. Tokh hal ini sudah biasa aku lakukan. Aku khan termasuk guru TELATAN. Kebetulan tempat parkir yang tersisa untukku berada dekat daun jendela yang bisa kelihatan isi makhluk dibalik jendela. aku lihat bergerombol siswa-siswiku tercinta berdiri karena terlambat. Berdiri karena gak bisa masuk. Berdiri sekedar menghormati teman lainnya yang sudah masuk terlebih dahulu untuk berdoa kepada Sang Khaliknya. Mereka berdiri tidak mungkin hanya untuk menunggu pelototan ganas penuh angkara murka dariku sebab jelas aku berada di luar jendela….TERLAMBAT.
Semangat 45 yang berkobar surut segera. Aku urungkan masuk ke dalam ruang di balik jendela karena aku tahu bahwa aku pasti akan berhadapan denga murid-muridku. Ada ketakutan yang mendalam melebihi ketakutanku kepergok kepala sekolah. Sungguh aku malu kepada murid-muridku. Berkali-kali aku menerangkan pentingnya disiplin untuk kesuksesan diri, kini aku terpuruk dalam ketidakdisiplinan yang aku ciptakan. Segera aku ambil langkah seribu roda. Kupacu motorku menuju warung Mbah Pini untuk membuang rasa maluku.
Seteguk wedang kopi aku reguk. Ah….begitu pengecutnya aku. Aku ternyata kalah dengan murid-murid yang umurnya jauh di bawahku.Di usia mereka yang belia mereka berani mengambil resiko atas perbuatan mereka. Mereka mau menghadapi ancaman di depan mata demi tanggungjawab mereka sebagai murid untuk senantiasa belajar demi masa depannya. Mereka mempertaruhkan harga diri mereka demi masa depan mereka. Mereka siap diomelii guru mata pelajaran yang masuk pada jam pertama demi mengisi hari panjang mereka dengan ilmu. sedangkan aku….? Bagikan bekicot aku hanya bisa bersembunyi menghadapi masalah di depanku. Aku mempertaruhkan masa depan anak istriku demi gengsiku. Gengsi karena tidak mau di cap guru telatan di depan muridku. Aku takut jika aku ketahuan mereka, apa yang aku sampaikan tidak akan mereka gubris sebab aku sendiri JARKONI (bisa ngajari tidak bisa nglakoni). Jika demikian adanya maka bagaimana nasib mereka kelak? mereka akan juga menjadi manusia yang telatan sebab gurunya sendiri juga telatan. Duh Gusti maafkan aku. setakut-takutnya murid yang gak ngerjain PR di depan gurunya ternyata aku lebih takut berhadapan dengan muridku tatkala ku tak bisa menjadi teladan bagi mereka.
