Dua Sendok Garam

Tasban dikenal sebagai santri yang periang. Setiap berhadapan dengan Mbah Yai tak pernah sekalipun wajah cemberut tampak di depan gurunya. Mbah Yai amat menyayangi Tasban karenanya.

Pada suatu hari Tasban hadir di depan Mbah Yai dengan raut dahi berkerut, bibir monyong dan tatap mata tertunduk. Mbah Yai tahu bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikiran santrinya ini.

“Hari ini kamu tampak susah sekali,Ngger. Ada apa?”

“Ngapunten Mbah Yai. Saya sudah bosan hidup. Sepertinya beban yang harus saya tanggung teramat berat sekali”

Mbah Yai tahu benar masalah Tasban. Apalagi kalau bukan masalah ekonomi keluarga. Tasban sebagai anak sulung yatim tentu menjadi tulang punggung ibu dan tiga adiknya. Belum lagi anaknya yang masih berumur dua tahun dan istri yang paling ia sayangi. Lanjutkan membaca

Kata Kunci Situs Porno

Berita merebaknya video porno di kalangan remaja barangkali bukan hal baru. Prihatin sekaligus miris melihat kasus yang tak kunjung usai, seolah tak pernah selesai sejalan dengan berkembangnya era teknologi yang makin pesat. Rata-rata remaja usia sekolah mendapatkan video porno melalui internet. Penggunaan internet yang sangat mudah memungkinkan gampang mendapatkan informasi termasuk video porno.

Tinggal memasukkan kata kunci di mesin pencari situs seperti google, yahoo atau lainnya, lalu enter dan tersedialah beragam informasi yang dibutuhkan. Kemudahan dan kebebasan mendapatkan akses bak swalayan mini ini menjadi kekhawatiran para orang tua. Wajar jika mereka melarang anaknya ke warnet. Lanjutkan membaca

Menulis Yang Membebaskan

Paradigma Menulis

Banyak anak mengatakan bahwa menulis adalah pelajaran yang sulit. Berdasarkan pengamatan saya selama mengajar di kelas, pelajaran menulis adalah salahsatu materi yang paling ditakuti setelah berhitung. Jika guru sudah mengeluarkan perintah untuk membuat sebuah prosa, pada umumnya siswa serempak menyatakan keberatannya dengan berbagai ekspresi. Lima hingga sepuluh menit berlalu, jangankan berlembar-lembar kertas telah mereka habiskan untuk menuliskan isi otak, satupun tidak. Kertas masih saja terlihat putih. Jika sebuah judul telah terpampang di bagian atas, itu pun sudah menjadi hasil yang lumayan. Lanjutkan membaca

Guru…Ayo Nulis Dong!

Januari 20, 2008, 3:48 am

Syarat pengajuan sertifikat pendidik dalam bentuk penilaian portopolio bilamana guru memiliki kualifikasi akademik serta kompetensi. Salah satu dari unsur kualifikasi akademik adalah memiliki karya pengembangan profesi. Jenis dokumen atau karya pengembangan profesi itu di antaranya adalah ; Buku yang dipublikasikan tingkat kabupaten / kota, propinsi atau nasional; Artikel yang dipublikasikan lewat jurnal yang terakreditasi maupun tidak, majalah atau koran tingkat lokal, nasional maupun internasional; Pernah menjadi reviewer buku; Penulis soal EBTA / EBTANAS / UAN; Membuat modul atau buku minimal untuk satu tahun atau dua semester; Pembuatan media pembelajaran; Laporan penelitian di bidang pendidikan; karya teknologi / seni yang meliputi teknologi tepat guna, patung, rupa, lukis, sastra dll.

Lanjutkan membaca

Meluruskan Arah Perjuangan Kartini

Selama ini kita mengenal Kartini sebagai pejuang pergerakan wanita. Surat-suratnya yang dibukukan oleh J.H Abendanon melejitkan kiprahnya dalam perjuangan. Sepak terjang dan pemikirannya inilah kemudian menjadikan Kartini sebagai tokoh pejuang emansipasi wanita dalam sejarah kebangsaan Indonesia.
Menyebut Kartini  sebagai tokoh gerakan emansipasi wanita tentu sebuah penyimpangan dari arah perjuangan Kartini. Hal ini bisa kita telisik secara historis perjuangan beliau. Kumpulan surat Kartini yang diberi judul “Door Duisternis tot Licht: Gedachten Over en Voor Het Javaansche Volk van Raden Ajeng Kartini: (Habis gelap terbitlah terang : pemikiran tentang dan untuk orang-orang Jawa dari Raden Ajeng Kartini) menunjukkan bukti beberapa pemikirannya tentang perjuangan. Tampak bahwa surat-surat yang dituliskannya kepada sahabatnya di Belanda bukan saja tentang pemberontakannya terhadap feodalisme yang mengekangnya tetapi juga bertitiktolak pada nasionalisme jauh hari sebelum tulisan-tulisan Bung Karno dan Bung Hatta ada. Inti dari tulisan-tulisannya adalah ingin membebaskan bangsa ini dari kegelapan yang menyelimuti. Pembebasan ini meliputi semua kompnen baik wanita maupun rakyat secara utuh. Jika saja Kartini benar-benar memperjuangkan kaum wanita, mengapa beasiswa belajar di luar negeri yang harus dia terima justru diberikan kepada pemuda dari tanah Sumatra, Agus Salim? Mengapa dia tak mau menjebol tembok yang mengurungnya? Mengapa pula dia harus pasrah ketika harus menikah dengan lelaki beristri? Lanjutkan membaca

Gengsi Gede-gedean (4 dari 4 tulisan)

Harga Yang Mesti Ditebus

Sebagian orangtua memasukkan anaknya ke sekolah favorit dengan harapan mendapatkan mutu pelayanan pendidikan secara lebih profesional. Sekolah yang dikelola secara profesional akan menghasilkan didikan yang baik. Tentu saja keberhasilan tersebut terletak pada diri siswa itu sendiri. Untuk memenuhi semua itu ada harga yang mesti ditebus. Kualitas menentukan harga. Sebagai contoh, harga tiket bus patas AC akan berbeda dengan bus kelas ekonomi. Harga ini untuk menebus rasa nyaman, cepat dan tepat dengan bus patas AC. Pun dengan sekolah favorit. Fasilitas yang lengkap, sumber daya guru yang berkualitas, serta kurikulum yang sesuai keinginan akan dibayar sekalipun mahal.
Predikat yang mereka dapatkan dapat pula menjadi bumerang bagi sekolah. Usaha untuk mempertahankan mutu tak semudah seperti memperolehnya. Berbagai jalan ditempuh. Salahsatu yang tampak adalah penyaringan siswa ketika penerimaan siswa baru melalui berbagai tes yang mesti dilakoni siswa. Namun semua usaha ini kadang dinodai oleh oknum-oknum yang ingin memperkaya diri. Titip menitip menjadi modus operandinya. Titipan dari pejabat atau orang paling penting di kota tak dapat ditolak dengan kasak-kusuk tawar menawar harga sebagai “paspor”. Semua itu dilakukan demi sebuah gengsi semata.
Terlepas dari semua itu, betulkah sekolah favorit melulu menjadi tempat mencetak anak yang berprestasi? Betulkah input serta fasilitas menjadi faktor utama predikat sekolah favorit?. Memang benar, kebanyakan sekolah favorit memiliki kualitas yang baik, tetapi input serta fasilitas bukan satu-satunya penentu. Proseslah yang membentuk siswa menjadi manusia pembelajar. Meski demikian, favorit maupun non-favorit keduanya memilki kesempatan yang sama untuk menghasilkan siswa yang berprestasi. Jika gengsi menjadi tujuan utama masuk sekolah favorit, barangkali sekolah tidak menjadikannya sebagai ladang bagi pembusukan pendidikan. Semua ini semata-mata demi menjamin kredibilitas sekolah tersebut di mata masyarakat.

Gengsi Gede-gedean (3 dari 4 tulisan)

Proses Menuju Kualitas

Beberapa waktu yang lalu sebuah pernyataan tercetus dari seorang teman, beliau mengatakan bahwa sekolah A merupakan sekolah favorit sebab memiliki gedung yang megah. Wajar jika beberapa kalangan mengemukakan pendapat serupa sebab Kenyataan di lapangan sekolah favorit identik dengan gedungnya yang megah. Tetapi apakah fisik ini menjadi acuan utama yang menentukan favorit atau tidaknya sebuah sekolah?
Ada pula yang berpendapat bahwa sekolah favorit terbentuk karena kualitas lulusannya. Kualitas lulusan ini akan tercapai jika input di sekolah itu berkualitas pula. Adalah hal yang biasa jika sekolah mendapat murid yang berkualitas, wajar jika lulusannya pun berkualitas. Bagaimana jika sekolah mau dan mampu menerima siswa yang biasa-biasa saja kemudian lulus menjadi siswa yang luar biasa?.
Menjadi sekolah favorit tidak sekonyong-konyong terjadi oleh sebuah mantra simsalabim abakadabra. Butuh banyak faktor sebagai amunisi memperoleh kualitas sekolah. Amunisi yang menjadi ruh laju berkembangnya sebuah sekolah. Pertama, kurikulum. Kurikulum sebagai suatu system menjalankan pendidikan menjadi tonggak utama keberhasilan memanusiakan manusia. Kurikulum yang mampu menjembatani siswa mengerahkan segala lemampuan yang dimiliki. Kurikulum yang membebaskan siswa dari kungkungan salah satu ranah saja. Kedua, Ghirah ( semangat ) guru yang terjun langsung di lapangan. Semangat yang dilandasi niat yang tulus ikhlas serta penuh gairah untuk membantu siswa menemukan kompetensinya. Guru yang tak segan-segan keluar dari zona nyaman demi menemukan inovasi-inovasi pembelajaran yang lebih atraktif  dan membelajarkan siswa. Guru yang pantang menyerah untuk membuat siswa betah menikmati pelajaran hingga tak terasa bel berdentang. Ketiga, sarana dan prasarana. Sarana memang bukan hal pokok yang akan menentukan kualitas tetapi penting untuk mendukung proses pembelajaran. Banyak pihak menyetujui jika sekolah favorit terletak pada fasilitas yang memadai dan lengap. Harapannya, fasilitas ini dapat menjadi sarana yang mampu menjadi tempat siswa mencurahkan bakat,minat serta kreatifitas mereka. Ketiga faktor tersebut jika dijalankan penuh keterpaduan,maka tak pelak sekolah akan mendapatkan hasil yang diinginkan.

Gengsi Gede-gedean (2 dari 4 tulisan)

Awalnya biasa saja

Predikat favorit yang diberikan masyarakat kepada suatu sekolah merupakan kehormatan bagi sekolah itu. Predikat ini merupakan pengakuan terhadap kepuasan stakeholder pendidikan. Predikat tersebut tentu saja tak akan terjadi tanpa sebab. Ada sebuah runtutan sejarah sebagai konsekwensi logis predikat yang diberikan. Apapun nama sekolah, dan di manapun keberadaan sebuah sekolah semua berhak mendapatkan predikat ini. Semuanya berawal dari hal yang biasa menjadi luar biasa.
Awalnya mungkin masyarakat masih memandang sebelah mata sebuah sekolah. Namun tatkala sekolah tersebut mampu berkiprah dalam kancah persaingan prestasi dan unjuk gigi dengan sekolah lain, lambat laun sekolah tersebut mulai dilirik oleh masyarakat. Dominasi beberapa kejuaraan yang berhasil disabet para siswa, lulusan dengan nilai tertinggi saat ujian, hingga banyaknya jumlah lulusan yang diterima di sekolah lanjutan yang favorit menjadi martir sekolah mendapatkan predikat tersebut. Keberhasilan sekolah inilah yang mengundang Tanya tentang seluk beluk sekolah itu. Mereka akan mencari informasi selengkapnya tentang sekolah. Sekolah mulai menjadi tempat pendidikan formal yang paling banyak di cari.

Gengsi Gede-gedean (1 dari 4 tulisan)

Negeri atau swasta?

Bulan Juli dunia pendidikan memiliki gawe massal. Tiap warga negara dari berbagai kelas sosial berbondong-bondong memasukkan anaknya bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Seluruh jenjang pendidikan dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) hingga PT ( Perguruan Tinggi ). Zaman dahulu sekolah negeri menjadi tujuan pertama orangtua menyekolahkan anaknya. Seiring perkembangan zaman, kini sekolah swasta pun mampu bersaing dengan sekolah negeri, bahkan banyak dari sekolah-sekolah itu menorehkan prestasi lebih dibandingkan sekolah negeri. Oleh karena itu, negeri atau swasta bukan motivasi utama tetapi sekolah favoritlah yang menjadi pelabuhan pertama tiap tahun. Dengan berbagai cara orangtua berusaha masuk ke sekolah yang dianggap favorit.

Favorit, kata yang mewakili sesuatu yang paling dicari dan diminati. Warna favorit, makanan favorit. Predikat favorit tentu saja bukan tanpa sebab. Seperti halnya dengan julukan kyai, ulama, atau pun ustadz. Favorit merupakan klaim dari masyarakat terhadap keberadaan sekolah tersebut. Semakin panjang antrian, semakin banyak orang berjubel diloket pendaftaran menjadi indikasi rating sekolah tersebut. Sekolah menjadi pusat perhatian layaknya selebritis berjumpa dengan fans-nya.

Euforia Sekolah Gratis

Siapa yang tak tergiur membaca atau mendengar iming-iming gratis. Sesuatu yang datang tanpa kita meminta dan mengeluarkan modal apapun jua. Setiap orang tak bisa memungkiri hal tersebut apalagi di zaman yang kian sulit ini. Mereka yang menawarkan gratisan bak mendung yang datang memberikan harapan datangnya air hujan bagi ladang-ladang yang tandus. Pun dengan hembusan surga berupa sekolah gratis. Kesempatan memperoleh pendidikan secara cuma-cuma adalah harapan semua terutama rakyat kecil. Namun kenyataan berbicara lain. Iming-iming tersebut hanya keluar pada saat-saat tertentu. Saat-saat yang menentukan maju dan tidaknya seseorang kepada jenjang kekuasaan. Lanjutkan membaca