Ditulis pada Mei 21, 2008 oleh epiet
Tahun ajaran baru segera tiba. Segudang kebutuhan mulai bergelayut di awang-awang. Seragam baru, buku baru, semua serba baru. Berrkaitan dengan itu pula di sekolah kami beberapa hari ini banyak tamu keluar masuk ruang kepala sekolah. Mereka adalah duta dari penerbit buku pelajaran. Misi mereka adalah menawarkan buku dari bos mereka agar dipakai oleh 800 siswa di sekolah ini.
Kata-kata pemikat keluar dengan seribu janji. Donatur tetap tiap kegiatan sekolah, uang saku piknik guru, kaos, jaket, ngopi bareng dan seabreg janji lainnya. Bagi kami sebagai guru yang memiliki gaji pas-pasan, tawaran tersebut sangat memikat hati dan melambungkan angan kami. Semua itu pastilah ada udang di balik tahu gimbal. Ada maksud tersembunyi dari itu semua. Mereka akan memberikan apa yang telah mereka janjikan jika buku mereka dipakai oleh siswa. minimal 10 kelas dengan berbagai bidang pelajaran.
“Iya, kita terima saja. Tokh, buku pelajaran sama saja khan isinya. Kita tinggal mengembangkannya. Lagi pula kita juga butuh itu semua. Apalagi atasan kian hari kian menekan pendapatan tambahan kita” kata beberapa guru komersial
“Sorry, kami tidak akan menggadaikan pendidikan ini untuk hal yang sepele. Kita perlu menelaah kelaikan buku mereka. Masa depan anak didik kita ada di tangan kita. Jangan sembarangan kita bertindak. Kita memang butuh, tapi yakinlah masih banyak jalan menambah rezeki” kata rekan guru yang idealis.
“Kalau saya tidak, menurut kami kita telaah dulu buku tersebut. Kita buat perjanjian dengan mereka. Jika buku mereka kami pakai setelah proses telaah, mau tidak mereka berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sekolah. Jadi urutan kerjanya kita telaah dulu. Setelah kita dapat hasilnya, kita ingatkan mereka akan janji yang telah disepakati. Kita nggak munafik kalau kita butuh fasilitas tambahan, tapi anak didik juga harus kita perhatikan.”Kata guru kritis menengahi.
Bagaimana menurut anda?
DIarsipkan di bawah: KOLOM GURU | Tidak ada komentar »
Ditulis pada Mei 2, 2008 oleh epiet
Menurut Sartono (72), pencipta lagu Hymne Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dalam berita antara menyatakan keprihatinannya tentang kondisi moral siswa yang saat ini banyak yang tidak menghargai dan menghormati guru. Kewibawaan guru mulai luntur. Banyak kasus murid dari SD hingga SMA yang berani melawan sehingga memicu hubunga tidak harmonis. Fenomena apakah ini?
Membaca pernyataan tersebut, saya bulu kuduk saya berdiri semua. Perubahan hegemoni dalam dunia pendidikan telah dimulai. Wajar jika demikian. Banyak benang yang harus kita urai menyikapi permasalahan tersebut.
-
Bagaimana murid bisa menghormati guru jika guru itu sendiri tidak menghormati dirinya sendiri AJINING DIRI ANA ING LATI, AJINING SALIRA ANA ING BUSANA.
-
Guru menganjurkan anak putri berjilbab dan sholat, tetapi orangtua di rumah busananya buka-bukaan, sholat pun matkumatan. Anak jadi bingung siapa yang harus mereka jadikan panutan.
-
Terlalu banyak dikte pada anak. Pembelajaran lebih bersifat dogma yang tak bisa ditawar. Pendapat anak haram untuk diungkapkan. Satu-satunya pendapat yang harus dipakai adalah “GURU”.
-
Guru kalah wibawa dengan media massa ( TV ). Lihat saja gaya pakaian anak-anak masa kini, jiplek sinetron.
-
Terlalu banyak guru yang JARKONI.
-
Guru lupa akan fitrahnya.
-
masih adakah yang lainnya….? mohon masukan
DIarsipkan di bawah: KOLOM GURU | Tidak ada komentar »
Ditulis pada Mei 1, 2008 oleh epiet
LORONG EDUKASI MENGUCAPKAN
SELAMAT HARDIKNAS
SEMOGA PENDIDIKAN DI BUNI PERTIWI MEMBAWA ANAK BANGSA MENJADI GENERASI YANG UNGGUL DAN MAMPU BERTAHAN DALAM ERA GLOBALISASI
mari kita simak sambutan MENDIKNAS
DIarsipkan di bawah: KOLOM GURU | Tidak ada komentar »
Ditulis pada April 20, 2008 oleh epiet
Maaf kepada teman2 yang pernah mampir kalo komentarnya harus di moderasi dulu. Beneran aku nggak tahu bagaimana caranya mengolah komentar. Harapannya sih, temen2 kalo mau komentar mendapatkan kemudahan. Nulis komen, submit, lalu jreng tampil deh tanpa nunggu moderasi. Nah kini tidak lagi. aku dapat ilmunya dari Pak Guru Sawali, saat ngasih komentarnya di blogku yang lain. silahkan di baca pelajarannya ya:
Supaya komentar makin banyak, sebaiknya komentar pengunjung tidak perlu dimoderasi. Untuk menghilangkan moderasi, bisa masuk ke dasbor, pilih menu opsi, pilih menu diskusi. Lalu, cari “E-mail saya setiap kali:”. Hilangkan saja tanda checklist pada kotak di depan: “Sebuah komentar ditahan untuk moderasi”.
Untuk menghindari komen SPAM, pasang widget Akismet lewat menu tampilan. Pilih widget. Tarik saja widget akismet ke atas (side bar). Blog kita akan terhindar dari komentar2 sampah dan OOT.
OK!
nah untuk memperjelas pelajaran dari Pak Guru Sawali, nih aku kasih gambarnya. SEMOGA BERMANFAAT

DIarsipkan di bawah: blog | 1 Komentar »
Ditulis pada April 18, 2008 oleh epiet
Feeding Frenzy® 2: Shipwreck Showdown
© Copyright 2006 PopCap Games, Inc.
Presented by GameHouse, Inc.
Permainan yang dipublikasikan oleh Game House ini sangat digemari oleh anak-anak. Jika anak-anak melihat permainan ini mereka pasti mudah mengenalinya. Siapapun dapat memainkannya tanpa batasan umur. Peraturannya sederhana yakni ikan yang lebih besar memakan ikan yang lebih kecil. Jangan sampai ikan yang kita jalankan termakan oleh ikan yang lebih besar. Setelah ikan yang kita jalankan makan beberapa ikan kecil maka status ikan akan naik berkembang menjadi lebih besar. Bertambahnya ukuran tubuh ikan yang kita jalankan dapat memakan ikan lain yang ukurannya lebih besar dari ikan yang kita makan sebelumnya.Permainan predator habitat sungai ini mengingatkan kita pada kehidupan manusia. Seolah begitulah gambaran manusia saat ini. Siapa yang lebih besar maka dia dapat memakan hak hidup manusia yang lebih kecil. Siapa yang memiliki kekuasaan maka dia beroleh hak atas kaum yang lebih kecil termasuk hak hidupnya. Mereka yang kaya dapat menjadi lebih kaya. Mereka yang miskin akan terus tertindas dalam kemiskinannya. Tetapi hal ini tidak dapat kita telan mentah-mentah. Perlu kita telisik lebih lanjut. Apakah orang-orang kaya tersebut menjadi lebih kaya karena usahanya ataukah karena merampas hak-hak orang miskin. Apakah mereka orang-orang miskin tetap menjadi misikin karena hak mereka dirampas orang-orang kaya ataukah karena kemalasan mereka?Semoga permainan ini sekadar permainan. Semoga aturan dalam permainan tidak berlaku dalam kehidupan manusia. Jika memang kenyataan membenarkan bahwa permainan ini ada dalam kehidupan manusia, kiranya PopCap Games akan memunculkan tokoh ikan piranha. Biar kecil asal bersama-sama berjuang maka ikan besar pun akan habis dibabatnya.
DIarsipkan di bawah: hiburan | Tidak ada komentar »
Ditulis pada April 18, 2008 oleh epiet
Beberapa hari yang lalu yayasan memboyong seorang konsultan keuangan. Langkah yang tepat mengingat kondisi keuangan yayasan yang tidak sehat. Kami selaku Guru dan karyawan harus bernafas lega sebab nasib kami ke depan masih ada harapan untuk tetap bisa bekerja di lembaga ini.
Konsultan tersebut konon lulusan terbaik universitas negeri terkemuka di kotaku, pernah bekerja sebagai konsultan sebuah perusahaan di Amerika. Kompetensi dan profil tersebut pantaslah bagi pemilik yayasan memilihnya sebagai konsultan. Tugas seorang konsultan dalam benak kami adalah layaknya dokter. Pasien datang mengeluhkan sakitnya, dokter memeriksa, dokter menemukan penyakitnya, lalu memberi resep. resep tersebut diserahkan sepenuhnya kepada pasien. Pasienlah yang menentukan memakai atau tidak obat yang direferensikan dokter tersebut. Kalau mereka mau pakai, tinggal pergi ke apotik, tebus obatnya lalu diminum setelah sampai di rumah. Jika mereka tidak mau memakai resep tersebut, tinggal dilumat lalu di buang ke tong sampah sambil mengumpat dokternya yang gak bener atau di bakar saja biar takada yang merasa tersakiti.
Nah, konsultan yang satu ini ternyata tidak seperti yang kami bayangkan. Tugasnya hanyalah main sunat dana. Dana kegiatan yang kami ajukan untuk kegiatan dengan dalih budget main potong sana-potong sini. Herannya mereka nggak amu kasih solusinya. Anggaran Belanja Sekolah yang di susun pada awal tahun diobrak-abrik sedemikian rupa. Padahal anggaran tersebut sudah disetujui oleh stakeholder yang diwakilkan oleh Komite Sekolah. Berdasarkan hal tersebut saya berpikir, kalau tokh tugas seorang konsultan hanya main sikat dan sunat dana di sana- sini, nggak perlu sekolah tinggi-tinggi, nggak perlu mendatangkan ahli yang pernah bekerja di Amerika karena Mak Pini penjual warung nasi pun bisa melakukannya. he…he…
DIarsipkan di bawah: MANAJEMEN | Tidak ada komentar »
Ditulis pada Februari 18, 2008 oleh epiet
Latah ataukah sekedar ingin tampil keren dengan dalih peningkatan mutu pendidikan?. Tokh, nyatanya UASBN SD membuat banyak pihak tampak resah menghadapinya. Sebenarnya UASBN SD bukan episode baru dalam panggung pendidikan Indonesia. Episode ini mengingatkan kita pada EBTANAS beberapa periode yang lalu. Menyambut UASBN SD, beberapa SD menyelenggarakan uji coba untuk mengukur kesiapan siswa. Evaluasi pada hasil uji coba dilakukan secara berkesinambungan. Syukurlah hasil yang diuji cobakan di sekolah kami menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan setelah dua kali uji coba. Guru mengoreksi secara manual walau memakai lembar jawab komputer pada saat itu.
Satu hal yang membuat risau hati saya adalah jika saatnya tiba. Koreksi sudah tidak dilakukan secara manual melainkan melalui sistem komputerisasi. Aturan main sistem ini siswa diwajibkan membuat arsiran hitam dengan pensil pada bulatan pilihan jawaban. Kesempurnaan dituntut dalam mengisi. Arsiran kurang hitam ataupun ada satu goresan pensil keluar dari lingkaran, tidak akan terbaca oleh komputer. Dengan kata lain jawaban tersebut dianggap salah.
Saya berdoa semoga hal ini tidak terjadi mengingat karakteristik dasar siswa SD. Siswa SD masih terlalu dini menggunakan sistem ini. Sifat kekurang hati-hatian dan kecenderungan tidak rapi adalah hal yang terdapat pada siswa SD pada umumnya. Maklum anak kecil. Karakter tersebut akan membuat peluang jawaban siswa tidak terbaca komputer semakin besar. Saya sangat menyayangkan jika hal itu dapat terjadi. Lantaran tidak sempurna mengarsir bulatan lantas membuat jawaban yang seharusnya benar menjadi salah akibat tidak terbaca. Siswa sudah memeras otak untuk mencari jawaban, itu saja masih diburu oleh waktu yang kian mendesak masih ditambah beban dengan membuat arsiran yang sempurna. Sungguh merupakan beban yang tiada terkira bagi mereka.
DIarsipkan di bawah: KOLOM GURU | Tidak ada komentar »
Ditulis pada Januari 31, 2008 oleh epiet

Dimana-mana bayi selalu menarik perhatian manusia yang melihatnya. Kesucian yang terpancar dari rona wajahnya bagai medan manet yang menghipnotis orang tuk mengasihinya. Tiada dendam, kebencian, dan angkara murka tertanam dalam hatinya. Hati nan suci dari surgawi. Mungkin inilah yang membuat aku terdiam terpaku memandang anakku berjam-jam sambil sesekali menyanyikan kidung rumeksa ing wengi. Saking asyiknya sehingga aku lupa bahwa hari ini aku mesti berangkat menuju ladang amal yang aku cangkul setiap hari demi sekepal nasi dan susu anakku.
Honda Supra Fit yang belum kelar kreditnya aku tancap gas pol berpacu dengan jam dinding kantor yang terus berdetak. Tak ayal lagi aku terlambat.Penuh rasa percaya diri aku masuk menuju halaman parkir sekolah. Tokh hal ini sudah biasa aku lakukan. Aku khan termasuk guru TELATAN. Kebetulan tempat parkir yang tersisa untukku berada dekat daun jendela yang bisa kelihatan isi makhluk dibalik jendela. aku lihat bergerombol siswa-siswiku tercinta berdiri karena terlambat. Berdiri karena gak bisa masuk. Berdiri sekedar menghormati teman lainnya yang sudah masuk terlebih dahulu untuk berdoa kepada Sang Khaliknya. Mereka berdiri tidak mungkin hanya untuk menunggu pelototan ganas penuh angkara murka dariku sebab jelas aku berada di luar jendela….TERLAMBAT.
Semangat 45 yang berkobar surut segera. Aku urungkan masuk ke dalam ruang di balik jendela karena aku tahu bahwa aku pasti akan berhadapan denga murid-muridku. Ada ketakutan yang mendalam melebihi ketakutanku kepergok kepala sekolah. Sungguh aku malu kepada murid-muridku. Berkali-kali aku menerangkan pentingnya disiplin untuk kesuksesan diri, kini aku terpuruk dalam ketidakdisiplinan yang aku ciptakan. Segera aku ambil langkah seribu roda. Kupacu motorku menuju warung Mbah Pini untuk membuang rasa maluku.
Seteguk wedang kopi aku reguk. Ah….begitu pengecutnya aku. Aku ternyata kalah dengan murid-murid yang umurnya jauh di bawahku.Di usia mereka yang belia mereka berani mengambil resiko atas perbuatan mereka. Mereka mau menghadapi ancaman di depan mata demi tanggungjawab mereka sebagai murid untuk senantiasa belajar demi masa depannya. Mereka mempertaruhkan harga diri mereka demi masa depan mereka. Mereka siap diomelii guru mata pelajaran yang masuk pada jam pertama demi mengisi hari panjang mereka dengan ilmu. sedangkan aku….? Bagikan bekicot aku hanya bisa bersembunyi menghadapi masalah di depanku. Aku mempertaruhkan masa depan anak istriku demi gengsiku. Gengsi karena tidak mau di cap guru telatan di depan muridku. Aku takut jika aku ketahuan mereka, apa yang aku sampaikan tidak akan mereka gubris sebab aku sendiri JARKONI (bisa ngajari tidak bisa nglakoni). Jika demikian adanya maka bagaimana nasib mereka kelak? mereka akan juga menjadi manusia yang telatan sebab gurunya sendiri juga telatan. Duh Gusti maafkan aku. setakut-takutnya murid yang gak ngerjain PR di depan gurunya ternyata aku lebih takut berhadapan dengan muridku tatkala ku tak bisa menjadi teladan bagi mereka.
DIarsipkan di bawah: KOLOM GURU | Tidak ada komentar »
Ditulis pada Januari 29, 2008 oleh epiet
saya mempunyai anak pertama autis yg sudah diterapi sejak umur 2thn.sekarang sdh mau msk SD namun tdk ada SD di kota Malang yg mau menerima anak saya..bagaimana nasip anak negara spt anak saya? HP.085249654454
Risih, sekaligus prihatin membaca keluhan Bapak Eko tersebut. Keluhan serupa pernah disampaikan oleh salah satu orangtua muridku yang memiliki anak autis. Ketika itu anaknya telah menempuh hingga kelas IV. Pesimis dan pesimis, tiada kata yang terucap tatkala bersua dengan saya. Bahkan beliau merencanakan akan memindahkan anaknya di sebuah SD Negeri. Usut punya usut ternyata pernah ibu tersebut berdialog dengan pakar psikologi anak paling terkenal di kotaku saat seminar parenting di sekolah. beliau menanyakan perihal perkembangan belajar anaknya yang autis di sekolahnya. Bagaikan disambar geledek di siang hari terus jatuh keselokan, selokannya bau lagi ketika mendengar jawaban sang dokter,” Anak ibu tidak cocok dimasukkan di sekolah ini yang memiliki kemampuan otak rata-rata siswanya menengah ke atas.”
Saya katakan kepadanya, apakah dengan memindahkan anaknya di SD Negeri maka akan mendapatkan perlakuan dan perhatian lebih? Karena anak autis memiliki kecenderungan asyik dengan dunianya sendiri. Perasaan tidak mau diganggu oleh orang lain. Marah jika keasyikannya terusik oleh ocehan dan tangan-tangan jahil temannya. Tak heran jika duduknya lebih meilih sendiri daripada bersama berdua dengan teman.
Anak autis adalah pribadi yang unik. Ketelatenan dan kesabaran mengungkap kemampuan optimalnya sangat diperlukan untuk menghadapi anak tersebut. Kalau perlu ada guru pendamping yang memang khusus memantau belajarnya di kelas.
Selama ini aku lihat, anak ini mau mengikuti pelajaran ketika aku berada di sampingnya. namun ketika aku berjalan melihat anak yang lainnya, dia kembali asyik dengan dunianya. Gak mungkin khan jika aku terus menerus duduk disampingnya sedangkan disisi lain banyak anak yang membutuhkan perhatianku. (bersambung)
REFERENSI: KLIK DI SINI UNTUK TAHU LEBIH DALAM TENTANG ANAK AUTIS
DIarsipkan di bawah: CURHAT | 1 Komentar »
Ditulis pada Januari 24, 2008 oleh epiet
Guru harus caper alias cari perhatian.
Ya, cari perhatian di depan murid-muridnya, tetapi bukan untuk narsisisme semata. Cari perhatian agar murid tertarik pada apa yang akan kita sampaikan. Jangan sampai kita masuk tiba-tiba saja to the point pada materi yang akan diajarkan. Bisa-bisa siswa merasa gak semangat, salah pengertian dan merasa bosan apalagi pas pelajaran terakhir.
Pada minggu ini materi PKN yang akan diberikan adalah tentang ORGANISASI. Berikut yang saya lakukan untuk CAPER dengan metode TANDUR.
Setelah berdoa, tiga anak ini menjadi sukarelawan untuk bermain cengkiran. Permainan yang biasa mereka lakukan di halaman. Permainan ini dilakukan dengan cara menyilangkan / mengabungkan salah satu kaki mereka bertiga lalu berputar sambil menyanyikan lagu “RUJAK CENGKIR”. Ada siswa nyeletuk ” Pelajaran PKN kok malah mainan tho Pak?” Rasa penasaran mulai menghinggapi mereka. Saya jawab” Ikuti saja pelajaran ini maka kalian akan tahu”.
Waktu untuk menumbuhkan rasa penasaran mereka cukup 5 menit. Setelah itu anak-anak aku instruksikan untuk membentuk kelompok. 6 kelompok terbentuk dan aku mulai tahap TANDUR kedua yaitu ALAMI.
Sebuah bola pingpong serta empat utas tali kuberikan pada masing-masing kelompok. Misi mereka adalah mengangkat bola tanpa menyentuh dengan tali yang diberikan. Kerjakan dengan bekerjasama.
Antusiasme mereka terhadap permainan menjadikan aku guru paling bahagia. Juara permainan telah didapatkan. Anak-anak aku ajak untuk berdiskusi.
Masuklah aku dalam tahap ketiga TANDUR yakni NAMAI.
Seenarnya aku ingin mereka mencari pengertian ORGANISASI. Aku kataka kepada mereka bahwa apa yang mereka lakukan adalah salahsatu wujud dari ORGANISASI. Serempak mereka menjawab, “OOO…..Materinya tentang ORGANISASI tho”.
Aku fasilitasi mereka untuk mencari arti ORGANISASI berdasarkan apa yang mereka lakukan dalam permainan. Diskusi menghasilkan pengertian dari ORGANISASI. Pengertian ini berasal dari olah pikir mereka bukan aku diktekan.
Enaknya jadi guru. Kerjanya hanya mengarahkan saja…
DIarsipkan di bawah: manajemen kelas | Tidak ada komentar »