Awalnya Aja Bobrok, Pantes aja…
Sebelum membaca ocehan saya, lebih baik teman-teman baca dulu deh berita di bawah ini yang saya kutip dari Harian Suara Merdeka Tanggal 9 Januari 2010.
Semarang & Sekitarnya
09 Januari 2010
Dipungut Rp 150 Juta per Peserta
* Pejabat Pemkot Jadi Calo CPNS
BALAI KOTA- Kecurigaan kalangan anggota DPRD tentang adanya praktik nepotisme dalam proses penerimaan CPNS di Kota Semarang, menemukan titik terang.
Setelah beberapa saat lamanya melakukan penelusuran, Komisi A menemukan sejumlah peserta CPNS yang dititipkan melalui beberapa pejabat di lingkungan Pemkot.
Anggota Komisi A, Imam Mardjuki mengatakan, pihaknya telah memiliki nama-nama oknum pejabat di Pemkot yang membuka usaha penitipan CPNS. Namun dia menolak menyebutkan secara detail.
Namun menurut kabar yang beredar, biaya yang dikutip oknum pejabat tersebut berkisar antara Rp 100 juta – Rp 150 juta per satu peserta CPNS. ’’Hal ini membuktikan masih terjadinya kecurangan dalam proses penerimaan CPNS kali ini,’’ kata Imam.
Sejak awal, pihaknya memang mencium ketidakberesan dalam pelaksanaan kemarin. Hal itu mulai terlihat pada malam menjelang pengumuman.
Pemkot, khususnya tim pengadaan CPNS dinilai tidak transparan dan terkesan menutup-nutupi hasil tes yang dikeluarkan oleh LPM FE Universitas Indonesia (UI).
Minta Penjelasan
Sebelumnya, beberapa fraksi di DPRD Kota Semarang menyepakati penggunaan hak interplasi ataupun hak angket untuk meminta penjelasan kepada ekskutif.
Bahkan penggalangan tanda tangan beberapa waktu lalu juga sudah diupayakan. Ketua DPRD, Rudi Nurrahmat, telah meminta agar Komisi A yang membidangi persoalan tersebut, mengawal penggunaan kedua hak tersebut.
’’Silahkan saja jika teman-teman memanfaatkan kewenangan yang dimiliki untuk meminta penjelasan. Ini juga bisa menjadi salah satu upaya pengawasan yang melekat sebagai anggota legisltaif,’’ katanya.
Rudi mengatakan, jika terbukti ada oknum pejabat di lingkungan Pemkot yang melakukan tindakan seperti yang disebutkan di atas, maka harus diberikan sanksi tegas.
Sebab, hal itu merupakan tindakan yang melanggar hukum. ’’Kami khawatir, jika tidak ada tindakan sanksi tegas, maka praktek ilegal terus akan berlanjut,’’ kata Rudi. (H54,H22-18)
Pertama kali SBY naik menjadi presiden untuk periode pertama saya berharap akan tercipta pemerintahan yang bersih. Tentu saja bersihnya dari segala hal yang berbau “SABUNISME” (baca: pelicin). Pada kenyataannya sama sekali belum berubah. Saya bukan menyalahakan pemerintahan SBY, tetapi sepertinya hal tersebut sudah menjadi budaya dan mengakar kuat hingga diyakini kebenarannya.
Saya hanya berharap, semoga temen-temen yang diterima PNS untuk formasi GURU jauh dari tindakan seperti berita di atas. Jika awalnya aja bobrok, pantes aja bangsa ini tak jua lepas dari kebobrokan moral. Bagaimana tidak? Mau mencetak generasi yang berakhlakul mulia tetapi gurunya aja sendiri di awali dengan akhlak AMULIA (Naudzubillahimindzalik). INI HARUS SEGERA DIHENTIKAN!
YA, SEKALI LAGI INI HARUS SEGERA DIHENTIKAN! Kenapa? ya iya dong, kasihan dengan temen-temen yang memang memiliki potensi dan kemampuan mumpuni kalah bersaing gara-gara gak punya duit sogokan!. kasihan bagi temen-temen yang sudah lama mengabdi menunggu giliran berharap dapat diangkat PNS melalui tes umum gagal gara-gara segepok uang sogokan. Maka sering ketika saya ngudang-ngudang anak saya, saya bilang kepadanya,” Ngger, sesuk kowe yen ditakoni gurumu apa gegayuhanmu sesuk, wangsulana gegayuhanmu iku dadi wong sugih yo. Zaman saiki kuwi wong pinter kalah karo wong sugih, ning sing luwih becik iku wong sugih lan pinter”
Kepala sekolah kami (saat saya SMA ) marah bukan kepalang. Hasil ujian nasional kami turun jeblok dari hasil ujian nasional tahun sebelumnya. Menurut beliau angkatan kami adalah angkatan paling parah berdasarkan hasil ujian nasional. Saya akui saat itu kami bagaikan kelinci percobaan. Bentuk ujian seperti itu baru pertama kali diberikan kepada kami. ( Tak heran jika ada angkatan yang diuji cobakan untuk diterapkan standar kelulusan ). Ujian nasional yang diselenggarakan saat itu menggunakan
menapaki langkah langkah berduri







